Jumat, 13 Mei 2011

Sejarah Palestina

Sejarah Palestina

Sejak periode kedua Abasiyyah yang dimulai setelah pertengahan abad ketiga hijriah, negara kekhilafaan Islam terus melemah secara progresif hingga akhirnya harus pecah menjadi tiga khilafah. Khilafah Abasiyah berdiri di Timur; khilafah Fatimiyyah di Mesir, sebagian wilayah Afrika Utara dan Syria; dan khilafah Umawiyah di Andalus. Pada saat kondisi umat yang seperti ini perang salib terjadi.

Peta Politik Regional sebelum Perang Salib :
Empat puluh tahun sebelum terjadinya perang salib, bangsa Saljuk Turki telah berhasil mendominasi Baghdad dan mengambil kekuasaannya di bawah kekhalifaan nominal Abasiyyah. Orang Saljuk berusaha untuk dapat menguasai sebagian besar wilayah Parsi, wilayah utara Iraq, Armenia dan Asia kecil pada tahun 1040 M.

Kemudian sultan Saljuk, Toghrol Bic, berhasil menguasai wilayah Bain pada tahun 1055
M.

Orang Saljuk mulai menyebarkan kekuasaan mereka atas Byzantine di Asia Minor. Pada tanggal 19 Agustus 1081 M, terjadi perang Malathkard di bawah komando Saljuk yang bernama Alb Arsalan yang benar-benar menimbulkan malapetaka besar bagi orang-orang Byzantin hingga akhir abad ke 11 M.

Pada tahun 1071 M. bangsa Saljuk meluaskan cengkraman kekuasaan mereka di sebagian besar wilayah Palestina kecuali Arsout. Dengan kekuasaan ini mereka mengakhiri
dominasi Fatimiyah dari tanah ini dan terus meluaskan ekspansinya atas wilayah Syiria yang dikuasai oleh Fatimiyah dan menguasai sebagian daerahnya.

Pada tahun 1092 M-485 H, Sultan Saljuk Malikshah meninggal dunia. Paska
kematiannya menandakan permulaan kehancuran dominasi orang Saljuk dan meletusnya
berbagai peperangan sengit antar mereka berkecamuk untuk memperebutkan dominasi
dan kekuasaan. Pada tahun 1096 M, kerajaan mereka terbagi menjadi lima : Kesultanan
Persia (di bawah kekuasaan Birkiyarouq), Kerajaan Khurasan dan wilayah di seberang
sungai (di bawah kekuasaan Singer), Kerajaan Aleppo (di bawah penguasa Radwan),
Kerajaan Damaskus (di bawah penguasa Daqaq) dan Kesultanan Saljuk Romawi (di
bawah penguasa Qalj Arsalan). Sebagian besar wilayah Palestina berada di bawah rezim
Damaskus. Pada saat dua penguasa Syria (Radwan dan Daqaq) melemah, banyak
penguasa partikelir bermunculan namun tidak ada satupun yang dapat mendominasi lebih
dari satu kota.

Pasukan Salib memulai serangan militer mereka pada tahun 1098 M (491 H) sementara
daerah-daerah muslim di Syria, Iraq dan lainnya tercabik-cabik karena berbagai
perbedaan dan konflik berdarah yang terjadi. Dua saudara dari keturunan Titish, Radwan
dan Daqaq, saling melancarkan serangan dan terlibat dalam pertempuran pada tahun 490
H. Banyak lagi pertempuran lain yang terjadi antara Muhammad bin Malikhshah


1






Birkiyarouq dan adiknya karena konflik perebutan kekuasaan di mana masing-masing saling memenangkan pertempuran dan membuat pengaduan kepada mahkamah
kekhilafaan secara silih berganti sepanjang periode 492-497 H.

Ekspedisi Militer Salib Pertama dan Hasilnya
Pada masa itu Eropa mulai memfokuskan pandangan mereka ke arah tanah suci, setelah Paus Urban Kedua (1088-1099 M) berseru kepada para hadirin di Dewan Claremont pada tanggal 26 November 1095 M untuk merestorasi tanah suci dengan cara merampasnya kembali dari tangan umat Islam.

Berbagai dewan didirikan di berbagai tempat yaitu di Liouz, Angariz, Man, Tours,
Bouwatieeh, Bordeaux, Toulouse dan Neim yang ia sebut sebagai konsolidasi untuk
melancarkan Perang Salib pada periode 1095-1096 M. Ia menjanjikan dan
mengkampanyekan bahwa siapapun sukarelawan yang ingin berpartisipasi dalam
peperangan yang mereka galang akan diampuni seluruh dosa-dosanya. Sebagaimana ia
juga menjanjikan bahwa setiap properti tentara Salib akan dipelihara di bawah
pengawasan gereja selama keabsenan mereka. Dan setiap tentara diminta untuk
menjahitkan lambang salib yang terbuat dari kain pada pakaian bagian luar.
Para Salibis telah melancarkan ekspedisi publik atau yang disebut dengan ekspedisi para
penyeru. Ini adalah ekspedisi yang sangat minus persenjataan dan koordinasi. Salah satu
dari ekspedisi ini adalah yang dilakukan oleh Peter seorang Hermit yang merupakan
orang yang punya retorika tinggi yang dikenal karena menunggang keledai pincang
dengan kaki telanjang dan pakaian yang compang camping. Namun ia mampu untuk
menggalang dan memobilisasi lebih kurang 15 ribu sukarelawan di Perancis. Tapi di
tengah perjalanan ke tempat yang mereka tuju, ada peristiwa pembantaian yang terjadi
pada lebih kurang 400 ribu sukarelawan, ini dikarenakan perselisihan yang mencuat dan
memanas dari persoalan sepele, perebutan makanan. Pasukan yang dipimpin oleh Walter
yang pailit (the Penniless), bergabung dengan pasukan di atas ketika bertemu di daerah
Konstantinople dan memasuki wilayah pesisir Asia bersama-sama. Di sana, terjadi
pertempuran dengan bangsa Saljuk yang dapat mengalahkan mereka serta membantai
lebih kurang dari 22 ribu Salibis. Dari pertempuran ini hanya 3 ribu tentara Salibis yang
dapat survive. Adapun dua ekspedisi militer Volkmar dan Amikh, mereka mulai
membantai orang-orang Yahudi di sepanjang perjalanan. Namun akhirnya kedua
ekspedisi tersebut harus terkucar-kacir di Hungaria!

Untuk pertama kali, para penunggang kuda profesional dan pembesar Eropa mulai
berpartisipasi dalam ekspedisi militer Salib kali ini. Serangan mereka dilancarkan pada
musim panas tahun 1097 M dengan tujuan untuk dapat menduduki wilayah-wilayah
muslim. Pada bulan Maret 1098 M, balatentara Salibis dapat membentuk sebuah negara
Al Raha di bawah kepemimpinan Paul Baldwin. Mereka kemudian mengepung Antakiya
selama 9 bulan. Penguasa Antakiya, Baggisia adalah seorang yang punya ide baik dan
mengambil langkah ekstra hati-hati dibanding dengan yang lain, telah memperlihatkan
keberaniannya yang membuaat kebanyakan pasukan Salibis binasa dan kalau mereka
tetap survive dalam jumlah yang masif seperti awal keberangkatan niscaya mereka akan
dapat mendominasi negara-negara Islam. Namun seorang Armenia yang bertugas


2






menjaga dinding-dinding kota dapat dihubungi oleh pasukan Salib dengan mendapat imbalan uang dan properti. Maka ia bukakan pintu gerbang dari menara yang ia kawal. Karena ulah pengawal ini akhirnya pasukan Salib dapat menduduki kota dan berhasil mendirikan kota kedua pada tanggal 3 Juni 1098 M (491 H) di bawah kepemimpinan Bohemond dari Normandy.

Pada tahun 1097 M, di saat bangsa Saljuk harus menghadapi ekspansi pasukan Salibis
pada wilayah utara Syria, orang-orang Fatimiyah memanfaatkan kesempatan ini untuk
menginvasi dan menduduki Tyre, lalu mendominasi Al Quds pada bulan Februari 1098
M di saat pasukan Salib sedang mengepung Antakiya. Di Tripoli, Ibn Ammar yang
merupakan seorang hakim dan salah satu pengikut Fatimiyah telah mendeklarasikan
kemerdekaan wilayahnya. Di saat tentara Salib masih mengepung Antakiya, penguasa
Fatimiyah mengirim delegasi kepada mereka dan mengutarakan berkeinginan mereka
untuk beraliansi dengan mengusulkan agar mereka dapat memerangi orang-orang Saljuk dan nantinya wilayah utara “Syria” berada di bawah kekuasaan Salibis dan Palestina di
bawah dominasi Fatimiyah. Untuk itu, maka pasukan Salib mengirim utusan ke Mesir
untuk mewujudkan “perhatian dan kebaikan mereka”.
Di saat orang Saljuk sibuk mempertahankan wilayahnya dari ancaman Salibis, orangorang Fatimiyah asyik dengan ambisi ekspansif mereka meluaskan dominasinya di Palestina pada wilayah yang dikuasai Saljuk sehingga perbatasan mereka mencapai sungai Al Kalb di bagian utara sungai Jordan di bagian Timur!

Muncul berbagai pengkhianatan dan apatisme dari negara-negara kota yang punya
keinginan kuat untuk dapat menarik simpati dan menjalin persahabatan dengan orang
Salibis yang terus berekspansi. Ini terjadi di saat penguasa wilayah Sheezat menghubungi
orang Salib dan menyepakati untuk tidak melawan mereka serta menyediakan apa yang
mereka butuhkan seperti makanan dan suplai bahan pangan lainnya. Penguasa ini juga
menyediakan dua orang penunjuk jalan yang akan membimbing perjalanan mereka!! Dan
imbalannya Salibis memberikan kota Homos sebagai hadiah!! Dan dibuatlah perjanjian
antara kedua pihak ini di kota Mosyaf. Adapun Kota Tripoli bersedia membayar pajak
dan menyediakan penunjuk jalan bagi kekuatan Kristen ini. Kota Beirut membayar uang
dan menawarkan ketaatan kepada mereka bila dapat menaklukkan Al Quds.

Raymond Tolouse (pangeran provinsi dan Toulouse di Perancis) terus memimpin
perjalanan Salibis menuju Al Quds. Jumlah mereka hanya sekitar seribu tentara berkuda
dan 5 ribu pasukan infantri. Pada waktu musim semi tahun 1099 M, mereka berhasil
memasuki Palestina dengan melewati Acre di mana penguasanya menyediakan mereka
berbagai suplai, sebuah langkah yang kemudian diikuti oleh penguasa Qeisarya dan
Arsouf. Setelah itu mereka menduduki Al Ramleh, Lod dan Bethlehem. Pada tanggal 7
Juni 1099 M, pengepungan wilayah Al Quds dimulai. Iftikhar Al Dawlah adalah orang
yang ditunjuk oleh Fatimiyah untuk berkuasa di sana. Kota ini dikuasai pada tanggal 15
Juli 1099 (23 Sha’ban 429 H). Bala tentara Salibis terus membantai umat Islam selama
satu minggu. Mereka berhasil membantai lebih dari 70 ribu muslim di dalam masjid Al
Aqsa, termasuk para pemimpin, cendikiawan muslim dan orang-orang yang sedang
beribadah. Baik negara Fatimiyah dan Abbasid tidak berbuat apa-apa untuk menolong,


3






mereka hanya diam dan membisu terhadap peristiwa-peristiwa ini. Al Quds dikuasai oleh pemimpin Salibis, Godfry Gouillon, yang dengan berendah hati menyebut dirinya
dengan julukan “Pembela Al Quds”. Dua kota, Nablus dan Hebron harus menyerah pada pasukan Salibis ini.

Dikatakan bahwa pasukan Salibis hanya bersisa 300 pasukan berkuda dan 2 ribu pasukan
infantri, oleh karena itu -mereka tidak dapat berekspansi lagi untuk mendominasi teritori
yang lebih luas karena mayoritas mereka mudik setelah berhasil menduduki Al Quds.
Maka dari itu, kerajaan-kerajaan Salibis menjelma ibaratkan gugusan pulau-pulau yang
dikelilingi oleh samudera para musuh. Kendati demikian, kerajaan-kerajaan ini terus
dapat survive untuk masa lebih kurang 200 tahun. Dan yang paling akhir hancur adalah
karena kekurangan suplai dan ekspedisi yang terputus-putus, karena umat Islam yang
tidak berdaya, terpecah belah dalam berbagai kelompok yang mereduksi jumlah
kekuatan balatentaranya. Ditambah dengan ketidakmampuan mereka untuk dapat
mengambil kesempatan melawan pasukan Salibis yang berjumlah kecil dan berekspansi
di wilayah yang luas. Namun umat Islam terlambat sehingga pasukan Salibis dapat
kembali mengkonsolidasikan kekuatan dan sekarang bukan tugas yang ringan lagi untuk
mengusir mereka keluar dari wilayah-wilayah yang mereka duduki.

Salibis terus menduduki berbagai kota di Palestina yang jatuh ke tangan mereka. Jaffa
ditaklukkan di saat kota Al Quds dikepung oleh kapal-kapal perang pimpinan Genoan (di
laut Meditarania) pada tanggal 15 Juni 1099 M. Mereka juga dapat menaklukkan bagian
timur dari danau Tiberia (wilayah Al Sawad) pada bulan Mai 1100 M. Salibis juga dapat
memaksa kota Haifa tunduk di bawah cengkraman mereka pada bulan Syawwal 94 H
(Agustus 1100 M) yang dibantu oleh armada besar dari Venisia. Mereka menduduki
Arsouq secara damai dan mengusir penduduknya. Qeisarya juga ditaklukkan dengan
kekerasan pada tanggal 17 Mei 1109 M. Mereka membunuh penduduknya dan menjarah
harta milik mereka pada tanggal 17 Mei 1101 M. Begitulah, pasukan Salibis memaksakan
kekuasaan mereka atas Palestina kecuali wilayah Ashkelon yang tunduk di bawah
naungan Mesir (Fatimiyah) yang mensuplai mereka amunisi, sumber daya manusia dan
dana setiap tahun. Namun Salibis sudah biasa setiap tahun mengepung Ashkelon, namun
upaya untuk mendudukinya selalu gagal hingga tahun 1153 M (548 H). Pada tahun itu,
penduduk Ashkelon berusaha keras untuk dapat memukul mundur pasukan Salib ini.
Namun, ketika Salibis sudah putus asa dan hampir menarik mundur pasukan, ada kabar
gembira yang sampai kepada mereka bahwa masyarakat Ashkelon tengah bertikai. Maka
mereka terus menunggu dengan sabar. Alasan perselisihan antar kelompok di Ashkelon
adalah persoalan perebutan kekuasaan; masing-masing kelompok mengklaim bahwa
hanya mereka sendiri yang meraih kemenangan dan berhak atas kekuasaan.
Bagaimanapun, perselisihan tersebut terus berkembang hingga harus menelan korban satu
orang dari masing-masing kelompok. Kondisi ini terus menggiring konflik yang ada
kepada situasi yang lebih memburuk, dan konsekuensinya adalah pecahnya perang
saudara antara mereka dan banyak nyawa yang harus menjadi korban. Di tengah situasi
seperti ini, Salibis berharap ada pintu kesempatan untuk menyusup. Dan tidak lama
kemudian mereka terus merayap maju ke wilayah Ashkelon dan berhasil mendudukinya
dengan mudah.



4






Walau pasukan bersenjata Salibis berjumlah kecil, namun mereka berusaha untuk dapat
mempertahankan dominasinya secara kuat dengan membangun benteng-benteng
pertahanan yang solid yang dibangun bagaikan pulau-pulau yang terisolasi di tengah
banyaknya wilayah di Syria. Sebagaimana pertumpahan darah antar sesama muslim terus
mengalir, beberapa dari mereka memohon bantuan dari Salibis untuk dapat mengalahkan
lawan mereka. Secara keseluruhan umat Islam dalam kondisi yang sangat lemah dan pada
sisi lain Salibis terus menjadi kuat dan semakin dominan. Dalam kondisi seperti ini
mereka berperan laksana polisi yang bertuga menjaga stabilitas wilayah.

Peperangan antar Baktas dan Tagatken yang memperebutkan Damaskus terus
berkecamuk yang akhirnya mengharuskan Baktash berusaha untuk mencari bantuan dari
raja Salibis pada tahun 498 H dan dari seluruh “orang yang menghendaki kerusakan”.
Namun, bantuan sang raja yang sangat diharap hanya bisa melicinkan Baktash untuk
terus terjerumus dalam kerusakan yang akhirnya mendorongnya lebih jauh ke anak
tangga kejatuhan. Pada pertempuran yang terjadi antara orang Fatimiyah dan Salibis pada
tahun 498 H di wilayah antara Askelon dan Jaffa, balatentara Fatimiyah didukung dengan
kekuatan yang lebih dari 300 pasukan berkuda dari Damaskus. Di lain pihak pasukan
Salibis didukung oleh orang Islam yang dikomandoi oleh Bakhtash bin Tatash. Ketika
balatentara Sultan yang dipimpin oleh Barsaq bin Barsaq datang dari Iraq pada tahun 509
H menuju Damaskus untuk berperang dengan Salibis, para penguasa Halab dan
Damaskus mengkhawatirkan kekuasaan mereka yang bisa saja terancam. Akhirnya
memotivasi mereka untuk bersikukuh berkolaborasi dengan pasukan Salibis yang
berbasis di Antakiya di bawah pimpinan Tagatken untuk melawan balatentara Sultan. Ia
berperang bahu membahu dengan pasukan Salibis dalam serangan yang dilancarkan
terhadap Bait al Maqdis dan dapat menguasai kembali kota Rafnya setelah Salibis
berhasil untuk mendudukinya.

Namun secara umum, jihad Islam melawan pasukan Salibis terus berlanjut, namun
disayangkan hal itu berlanjut dengan minus perencanaan strategis atau koordinasi.
Beberapa alasan lain atas berlanjutnya jihad seperti ini yaitu secara faktual bahwa banyak
pemimpin muslim yang kerap muncul dan menghilang dalam waktu yang tidak terlalu
lama yang berakibat pada instabilitas kepemimpinan. Begitu juga konflik dengan Salibis
yang berlangsung di berbagai front dan terjadi secara simultan di negara-negara Syam.
Umat Islam membutuhkan satu pangkalan besar dan kuat untuk menjadi tempat
bertolaknya jihad. Dan kebanyakan pertempuran yang terjadi adalah antara kota atau
benteng Islam—yang berusaha untuk membela diri atau memperluas kekuasaannya—dan
Eropa.
Kemenangan dan kekalahan dalam pertempuran terus dialami oleh kedua belah pihak baik umat Islam ataupun pasukan Salibis. Dan tidak ada satu tahun pun yang berlalu tanpa dilewati oleh peperangan dan secara silih berganti menduduki kota-kota dan
benteng-benteng. Bukan perkara sulit bagi muslim untuk masuk ke tengah Palestina dan menceburkan diri dalam peperangan yang terjadi di kota Ramlah, Jaffa atau lainnya. Namun orang Salibis terus melestarikan hegemoni dan menancapkan jemari
kekuasaannya atas wilayah dan areal yang telah ia taklukkan.



5






Beberapa pemimpin Islam yang baru muncul kelihatannya tidak terlalu kuat untuk
menyatukan kekuatan umat dalam melakukan perlawanan terhadap Salibis. Kendati
demikian para pemimpin ini tetap memelihara spirit resistensi terhadap musuh sehingga
mereka hidup dalam ketidakstabilan dan merasa tidak aman. Mereka berusaha untuk
membunuh dan menawan beberapa komando dan para pemimpin pucuk Salibis.
Contohnya adalah Mu’een Al Dawlah Saqman berperang dengan Shams Al Dawlah
Jakramesh dan ketika Harran dikepung oleh kekuatan Salibis pada tahun 497 H, mereka
berdua mulai berhubungan satu sama lain serta bersumpah untuk berkorban demi
keridhaan Allah dan imbalan-Nya. Maka keduanya sepakat untuk bergerak maju dan
bertemu di daerah Al Khabour dengan kekuatan lebih dari 10 ribu dari berbagai bangsa.
Di antara mereka ada yang berasal dari Turki, Arab dan Kurdi. Pasukan gabungan ini
bertemu dengan tentara Salibis di sungai Al Bleekh dan berhasil menaklukkan pasukan
musuh. Kekuatan Islam dapat menangkap pemimpin Salibis Burdawel dan
menjualbelikannya dengan harga 35 dinar. Mereka juga dapat membebaskan 160
tawanan perang muslim yang berada di bawah tahanan Salibis. Tidak kurang dari 12 ribu tentara Salibis terbunuh dalam pertempuran ini.
Imaduddin Zanki mengusung Bendera Jihad :
Dengan munculnya Imaduddin Zanki bin Aqsanqar--yang mendirikan negara Zanki di Mousel dan Halab—telah menjadikan jihad melawan Salibis memasuki fase baru. Zanki ditunjuk sebagai penguasa di Mousel pada tahun 521 H setelah memperlihatkan
kecakapan dan efisiensi yang tinggi yang dalam mengurusi negara Basra dan Waset di Iraq. Pada bulan suci Muharram tahun 522 H, ia berusaha untuk merebut kekuasaan di Halab. Zanki memulai derap langkahnya untuk memerangi Salibis dan mengalahkan
mereka dalam beberapa peperangan.

Upaya-upaya Zanki untuk menyatukan umat Islam guna melawan Salibis tidak pernah berhenti. Ia menduduki kembali kota-kota Hama, Homs, Ba’albek, Sarji, Dara, Ma’rra, Kafr Taleb, Al Akrad, Sahrazour, Al Hadeetha dan banyak lagi kota-kota lain serta benteng Al Soor di wilayah Abu Bakar, benteng Al Hameediya, benteng Ba’reen dan benteng Al Ashhab dan lainnya dari Kurd Hakaria.

Pada tahun 534 H, Zanki berusaha dua kali untuk menaklukkan Damakus, namun
upayanya itu tidak berhasil. Damaskus benar-benar menjadi kunci untuk dapat merebut
kembali Palestina. Tapi sayang, Mu’een El Deen Ans, penguasa ketika itu berhasil
menghubungi balatentara Salibis dan beraliansi dengan mereka untuk melawan Zanki. Ia menjanjikan mereka kota Banias dan itu mereka sepakati. Tapi Zanki mengejar mereka
sebelum sampai ke Damaskus dan mereka putuskan untuk kembali. Namun, Mu’een El
Deen tetap memegang janjinya untuk melepas Banias dan bukan kepada Salibis, tapi
kepada orang Islam.
Kemenangan yang paling gemilang yang dilakukan oleh Zanki adalah penaklukannya
atas kota Al Raha dan penghancuran yang ia lancarkan terhadap kerajaan Salibis yang
bertengker di sana. Ia kepung kota tersebut lebih kurang 4 minggu, dan ia dobrak dengan
kekuatan yang ia miliki pada tanggal 6 Jumadil Akhir 539 H. Ia juga mengalahkan
seluruh kota yang berada di bawah provinsi kerajaan sebelumnya di Peninsula ini.


6






Sebagaimana ia juga membebaskan kota Surooj dan semua kota yang berada di bawah hegemoni Salibis ke bagian timur dari sungai Eufrat, kecuali kota Beerah.

Setelah kegemerlapan sinar jihad yang berlangsung sekitar 20 tahun itu, Imaduddin Zanki
mati syahid di pertengahan bulan September 1146 M (5 Rabiul Awal 541 H). Hal ini
terjadi oleh ulah pengkhianatan yang dilakukan oleh beberapa pengikutnya ketika ia
melakukan pengepungan terhadap benteng Ja’beer dalam usianya yang ke 60 tahun.
Menurut Ibn Al Katsir, Zanki adalah seorang politisi yang ulung, sangat dihormati,
dihargai oleh pasukannya dan orang-orang sipil lainnya serta tidak menganiaya orang-
orang lemah. Sebelum ia memegang tampuk kekuasaan, negaranya dalam kondisi hancur
karena merupakan tempat melintasnya para pemimpin yang korup dan bertetangga
dengan kerajaan Salibis. Ketika ia memegang kekuasaan, semua itu berubah dan
menjadikan negaranya kembali pada rel yang semestinya serta mengembalikan
kemakmuran buat negaranya. “Zanki adalah raja yang terbaik dalam bentuk dan
perilakunya. Ia sangat pemberani dan kuat yang berusaha untuk dapat menguasai
kerajaan-kerajaan lain pada waktu itu. Ia juga baik dengan kaum hawa dan berlaku
dermawan kepada bawahannya.” Setelah kemangkatannya ia dikenal sebagai seorang
syahid (martir).

Imaduddin Zanki bekerja dalam kondisi dan situasi yang paling sulit. Pada satu sisi, ia
berada di tengah konflik yang berkecamuk di antara para penguasa dan para pangeran
dinasti Saljuk. Dan pada sisi yang lain ia berdiri di antara mereka yang bertikai dan
dinasti Abbasiyah. Di tambah lagi dengan apa yang ia derita dari iklim yang diwujudkan
oleh tradisi kekuasaan warisan dan kerakusan para pangeran dan penguasa untuk
memerintah bahkan dengan hanya mendapatkan satu kota atau satu benteng sekalipun.
Sebagaimana ia juga hidup pada masa di mana kekuatan Salibis masih terlalu superior
dan penuh dinamika. Kendati demikian ia dapat meletakkan fondasi-fondasi bagi
pembangunan pangkalan untuk bertolaknya jihad besar dan kuat yang membentang dari
utara Syam ke arah utara Iraq. Sebagaimana ketangguhan dan superioritas Salibis dapat
dipatahkan dan dipermalukan dalam berbagai medan laga. Zaki melancarkan jihad dan
bekerja ekstra keras sehingga memungkinkan untuk memerangi mereka guna merebut
kembali wilayah yang dirampas. Ia telah mempersembahkan model pemimpin dan
mujahid yang berjalan di bawah bendera Islam yang mampu untuk mengembalikan
harapan untuk membebaskan tanah-tanah suci milik umat Islam yang dijajah oleh para
musuh di seluruh dunia.

Setelah syahidnya Zanki, kerajaannya terpecah menjadi dua negara yang dibagi sesuai menurut tradisi warisan pada masa itu kepada kedua anaknya : Nuruddin Mahmud mendapat bagian negara Halab dan wilayah subordinatnya; Saifuddin Ghazi
mendapatkan negara Mousel dan negara bagiannya.

Nuruddin Mahmud dilahirkan setelah 20 tahun kejatuhan Al Quds ke tangan Salibis pada tanggal 17 Shawwal 1511 (Februari 1118 M). Ia berperawakan tinggi, tampan dengan kulit agak kehitaman dan sedikit berjenggot. Ia menikahi anak Muinuddin Anz pada tahun 541 H dan dikaruniahi dua anak laki dan satu perempuan.



7






Di bawah pemererintahannya, fase besar jihad baru dimulai di wilayah Syam. Satu hal
yang ia cita-citakan di masa kekuasaannya yang berlangsung 28 tahun yaitu
mempersatukan umat Islam dan membebaskan tanah-tanah mereka yang terjajah.

Sejak saat itu ia terus berupaya dengan segala kemampuan yang ia miliki dan
menggalang potensi-potensi umat serta memajukan kehidupan mereka dari berbagai
aspek yang sesuai dengan konsep Islam yang integral hanya untuk mengembalikan
kejayaan umat ini dan mengusir para penjajah Salibis dari bumi pertiwi mereka.

Untuk merealisir hal tersebut, Nuruddin Mahmud mengerjakan sesuatu yang dapat
menghidupkan kebangkitan Islam yang menekankan kebutuhan akan solusi yang Islami.
Ibn Al Kastir mendeskripsikannya dengan berkata : “Seluruh yang saya baca tentang
raja, baik pada masa periode pra Islam dan pada masa Islam hingga sekarang, saya
tidak pernah melihat seorang raja yang lebih adil dan baik kepada bawahannya setelah
Khulafa Arrasyidin dan Umar bin Abdul Aziz yang punya sejarah baik dari Nuruddin,
raja yang adil”. Ia merupakan sosok yang “pintar, cerdas dan sangat melek akan situasi
kontemporer”. Ia tidak pernah menghargai seseorang oleh karena status sosial dan
hartanya. Ia hanya menghargai orang-orang yang jujur dan bekerja keras.
Ia juga terkenal karena ketakwaannya dan ke-waraa-annya (kecintaannya kepada Allah). Ia sangat berkemauan keras untuk menunaikan semua ibadah sholat dan merayakan
perayaan-perayaan Islam. Ia melakukan shalat Isya’ dan bangun di tengah malam untuk shalat malam hingga terbit fajar. Ia juga banyak berpuasa.

Nuruddin juga berkarakteristik punya kefakihan dan ilmu yang luas, maka ia seperti
ulama dan bersuritauladan kepada sejarah para ulama salafusshaleh. Ia merupakan
pengikut mazhab Hanafi dan mendapatkan izin untuk meriwayatkan hadits-hadits. Ia
mengarang buku tentang konsep jihad, punya tabiat yang punya kemauan tinggi,
sebagaimana ia juga dikaruniahi kepribadian dan kharisma yang kuat. “Ia sangat ditakuti
namun lembut dan penyayang”. Dan dalam majlisnya “tidak dibicarakan hal-hal kecuali
ilmu, agama dan berkonsultasi tentang jihad. Dan belum pernah didengar darinya
ucapan kalimat keji sama sekali dalam kondisi marah atau ceria. Ia benar-benar seorang
pendiam.”

Ia adalah seorang zuhud dan merendah diri (mutawaadhi) “konsumsi orang paling miskin pada zaman itu masih lebih tinggi dari konsumsi yang ia makan setiap hari tanpa
simpanan dan tidak pula menentukan dunia untuk dirinya sendiri.” Dan ketika isterinya mengeluh kepadanya akan beratnya penderitaan dan kesusahan hidup yang dikondisikan oleh suaminya, Mahmud memberinya tiga toko pribadi di kota Homs dan berkata : “Itu semua yang aku miliki. Dan jangan berharap kepadaku untuk meletakkan jariku pada uang umat yang diamanatkan kepadaku, saya tidak akan mengkhianatinya. Dan saya tidak mau menceburkan diri dalam siksa Allah hanya karenamu.”

Suatu hari, seorang Faqih yang bernama Qutbuddin Annisaburi berkata kepadanya :
“Saya mohon kepadamu untuk tidak menghancurkan dirimu dan Islam. Kalau
seandainya kamu terserang di tengah pertempuran maka tidak akan ada umat ini yang


8






tersisa, semuanya terbunuh.” Maka ia menjawab : “Wahai Qutbuddin!! Siapa yang
terpuji sehingga disanjung seperti ini? Sebelum saya ada yang memelihara negara dan Islam? Itu Allah yang tidak ada Tuhan selain-Nya.”
Ia punya komitmen yang tinggi untuk mewujudkan seluruh hukum Islam. Ia menjadi
teladan yang baik bagi para petinggi negara dan pimpinannya dalam berkomitmen kepada
hukum yang ada. Sebagaimana ia juga berupaya keras untuk dapat mengembalikan hak-
hak yang terampas kepada mereka yang teraniaya. Dan berkata : “Tidak boleh (haram)
bagi orang yang bersahabat denganku untuk tidak menyampaikan kisah orang yang
teraniaya yang tidak sampai kepada ku.” Dalam derap langkahnya mempersatukan
negara-negara Islam, ia sangat menjaga komitmen untuk tidak menyebabkan adanya
pertumpahan darah muslim. Maka dari itu ia sangat penyabar dan punya hikmah
(wisdom). Nuruddin (rahimarullah) sangat komit dengan syariah dan melaksanakan
hukum-hukumnya.

Kendati keterpaksaan yang mendorongnya untuk berhadapan dengan para pemimpin kota
dan benteng muslim dalam upayanya untuk mewujudkan persatuan atau karena aliansi
mereka dengan bangsa Eropa…namun darah seorang muslim baginya sangatlah agung. Ia
“tidak bertujuan untuk merebut wilayah muslim kecuali memang terpaksa. Baik itu untuk
dapat dipergunakan dalam pertempuran dengan Salibis atau karena khawatir akan
ancaman yang mungkin datang dari mereka.” Dan ketika penguasa Damaskus beraliansi
dengan Salibis pada tahun 544 H, ia bertempur dengan mereka tanpa sedikitpun
mencederai orang muslim dan melenyapkan nyawa mereka. Sebagaimana ia berkata :
“Tidak ada perlunya bagi orang Islam untuk saling memerangi dan saya berusaha untuk
menyenangkan mereka agar mereka tidak sungkan untuk berjihad melawan orang-orang
musyrik.” Ia telah menyaksikan bahwa Damaskus telah mengharamkannya hingga ia
berangan-angan dan berdoa kepada Allah agar ia menjadi bagian dari kerajaannya.

Dan ketika salah satu dari mereka (orang Damaskus) mengadukan persoalan kepada
hakim, maka ia dipanggil dan berkata : Dengan segala ketaatan “Sesungguhnya
perkataan orang mukmin kalau berdoa kepada Allah dan Rasulul-Nya untuk menentukan
keputusan di antara mereka harus mengatakan kami mendengar dan mentaati.
Sesungguhnya saya datang ke sini karena menjalankankah perintah syariah”. Pada
kesempatan lain ia dipanggil oleh para hakim maka ia datang. Dan ketika terbukti bahwa
kebenaran berpihak kepada Nuruddin, lawannya diganjari apa yang dituduhkan
kepadanya.

Ia juga telah menghapuskan pajak-pajak yang melampaui batas syariah, walau itu adalah
sumber aliran pendapatan yang besar bagi anggaran negara dan hal itu mungkin untuk
disahkan—menurut sebagian orang—dengan kondisi negara yang serba sulit dan perang
yang ada. Ia berkata : “Kita menjaga jalan dari maling dan perompak…tidakkah kita
berusaha untuk memelihara agama dan mencegah apa yang merusaknya”. Dan sesuatu
yang paling ia sukai adalah kalimat kebenaran yang ia dengar atau ajakan kepada sunnah
yang diikutinya.




9






Ia menghidupkan perilaku untuk menghormati para ulama dan menghargai mereka,
kendati para pemimpin dan petinggi tidak berani untuk duduk dalam suatu pertemuan
tanpa perintah dan izinnya. Maka apabila ia kedatangan seorang faqih dan shaleh, ia
berdiri terlebih dahulu dan mempersilahkan orang tersebut untuk duduk. Dan ia juga
memperlihatkan penghormatan dan penghargaan kepadanya. Menurutnya para ulama
adalah : “Tentara Allah dan dengan doa mereka kepada Allah kita akan dimenangkan
melawan musuh. Dan mereka punya hak yang berlipat ganda di bait al maal yang tidak saya berikan, kalau mereka rela dengan apa yang kita lakukan atas sebagian hak
mereka, maka itu adalah pemberian bagi kita”. Ia senang mendengarkan nasehat para ulama dan mengagungkannya dan berkata : “Sesungguhnya Al Balkhi bila berkata kepada ku : Mahmud, maka merindinglah seluruh bulu roma di badanku karena
wibawanya dan membuat hatiku menjadi lebih halus”.
Nuruddin mengetahui kepribadiannya yang memperhatikan kondisi umat Islam dan
menghidupkan makna-makna kebersamaan, kerjasama dan solidaritas antara sesama serta meringankan penderitaan dan kondisi sulit mereka. Ia telah bekerja untuk menyantuni para anak yatim, mengawinkan para janda, memenuhi kebutuhan anak fakir, mendirikan rumah-rumah sakit, tempat pengungsi, panti asuhan, pasar-pasar, tempat buang air besar (WC) umum, jalan-jalan umum dan memberikan orang-orang badui tempat tinggal agar mereka tidak mengganggu para jemaah haji.

Pelayanan-pelayanan yang diberikan kepada umat terus meningkat, maka ia sangat
dicintai rakyat dan relasinya dengan mereka menjadi kuat dan solid…jiwa konstruktif dan cinta kebajikan terus mengalir menembus dinding jiwa para bawahannya sehingga membuat mereka juga ikut berlomba melayani rakyat, membangun sekolah, rumah sakit, tempat pengungsi dan media-media pelayanan lainnya.

Nuruddin mengatur kantor pemberian zakat, mengkoordinasikan pengumpulan dan
pembagiannya sesuai dengan dasar-dasar syariah. Ia juga menstimulus para businessmen untuk mengamankan infrastruktur perhubungan dan menghapuskan pajak yang terlalu membebani roda pergerakan bisnis. Ia terus mengerjakan apa saja yang memungkinkan untuk memperkuat negara dan mendorong laju pembangunan ekonominya.

Sebagaimana ia juga berusaha untuk menghidupkan makna-makna jihad ke dalam jiwa
dan mendidik umat agar dapat memahaminya serta memanifestasikan dignitas, daya
ketahanan dan kekuatan umat Islam. Memeras tenaga untuk mewujudkan segala sesuatu
dan menyeleksi para pemimpin yang proporsional. Berupaya untuk melindungi kota-kota,
membangun tembok-tembok pertahanan, dan memelihara jiwa umat Islam. Ia sangat
punya kelebihan dengan determinasinya yang tinggi dan kuat. Bila kehormatan umat
Islam dihina oleh para musuh maka ia akan melancarkan pembalasan yang sangat keras
kepada mereka. Ketika ia baru saja memegang kekuasaan selama satu bulan, pasukan
Salibis melancarkan serangan atas wilayah Ar Raha dengan asumsi bahwa penguasa baru
adalah lemah. Namun Naruddin menyerang balik dan membunuh ¾ kekuatan musuh
yang lari tunggang langgang setelah mengetahui sosok pemimpin baru ini. Pada waktu
Salibis menyerang Nuruddin dan sebagian dari pasukannya di saat mereka dalam
kondisi tidak siap, maka ia membagi mereka dan untuk tidak boleh berteduh di bawah


10






atap hingga mereka dapat membalas Salibis. Dan pembalasan kali ini sangat luar biasa yaitu pada peperangan Harem di mana pasukan musuh harus kehilangan ribuan
balatentara mereka.

Olahraga merupakan aktifitas yang dimanfaatkan olehnya sebagai sarana persiapan jihad. Peperangan pada waktu itu banyak mempergunakan kuda…dan untuk melatih
ketangkasan berkuda maka ia berlatih dengan bermain bola dari atas punggung kuda polo untuk punya kemahiran yang tinggi!

Ia berjuang keras untuk dapat memobilisasi segala potensi-potensi umat untuk jihad…dan untuk itu ia tidak lupa berbuat baik kepada orang-orang lemah, orang tua, fakir miskin dan meminta doa kepada mereka yang mungkin dapat diberkahi oleh doa tersebut yang dapat membawa kemenangan.
Dengan struktur integral dan persiapan yang sungguh-sungguh dan berimbang, Nuruddin
dapat memasukan periode perubahan yang sangat fundamental dalam aspek politis untuk
dapat merealisir dua persoalan yang dapat mengantar kepada dua arah yang seimbang
yaitu :

1- Mewujudkan persatuan Islam dan memobilisasi kekuatannya dalam satu wadah
(bautaqah).

2- Melumatkan kekuatan bersenjata Salibis secara berangsur-angsur : dengan
melemahkan prestise, menghancurkan kekuatan bersenjata mereka dan meliberasi
tanah-tanah milik umat Islam yang jatuh ke tangan kekuasaan mereka secara
bertahap….yaitu dengan menunggu terwujudnya persatuan Islam untuk
memanifestikan kemenangan yang telak dan final atas kekuatan Salibis.

Nuruddin benar-benar berjuang dengan segala upaya untuk dapat merealisir persatuan
Islam dengan segala kesabaran, bijaksana dan ketegaran serta dengan determinasi untuk
tidak menyebabkan tumpahnya darah umat. Ia berupaya untuk dapat menarik simpati dan
support dari berbagai kekuatan Islam di wilayah utara Iraq dan memancing solidaritas
mereka. Dan ia membeberkan hakekat para penguasa dan pemimpin—yang menjadi batu
sandungan bagi persatuan Islam—di depan mata rakyatnya, mereka membedakan antara
jihad yang ia galang dan kehinaan penguasa mereka, antara reformasinya dan kerusakan
penguasa, antara loyalitasnya kepada Allah, Rasul dan orang mukmin dan loyalitas
kepada penguasa, maslahat, hawa nafsu mereka dan orang-orang Salibis!! Maka rakyat
berangan-angan agar ia dapat memerintah mereka….Maka dari itu ia mendapat legitimasi yang luas di saat wilayah mereka bergabung dengannya.

Kota Homs bergabung pada tahun 544 H-1149 M, namun ia sangat bercita-cita untuk
menggabungkan Damaskus yang berdiri di antara kekuasaannya dan kekuatan Salibis di
Palestina. Pemerintahan Damaskus lebih mengutamakan perlindungan terhadap wilayah
mereka sendiri dan pada tahap berikutnya baru berjihad melawan orang Eropa.
Terkadang mereka berkhianat, berdamai dengan mereka dan terkadang juga beraliansi
bila khawatir dengan kekuatan Islam yang akan mengancam kekuasaannya. Dan sesuai


11






dengan perencanaan yang matang ia mentargetkan untuk dapat menguasai kota
Damaskus dengan tanpa harus meneteskan darah dan menarik penduduk sana kepada
barisannya serta bersikap anti terdapat permohonan yang diajukan oleh penguasa untuk
meminta bantuan Eropa. Nuruddin berhasil membuka Damaskus pada bulan Shafar 549
M-25 April 1154 M, hal ini dapat dilakukan setelah meninggalnya Muinuddin Anz pada
tahun 1149 M, melemahnya pemerintahan Damaskus dan kejatuhannya di bawah
hegemoni Salibis yang memaksakan upeti-upeti bagi Damaskus dengan mengirim
delegasi mereka memasuki kota ini setiap tahun dan mengumpulkannya dari mereka.
Kekuasaan Nuruddin atas kota-kota dan benteng-benteng Syria berlanjut hingga datang masa kelemahannya tiba. Namun ia mengetahui benar bahwa cara yang paling efektif untuk memerdekaan Palestina dan menanggalkan kekuasaan Salibis di sana adalah tidak dapat diwujudkan kecuali dengan menguasai Mesir dan bergabungnya ia dalam front kesatuan Islam dan memposisikan mereka antara dua borgol.

Kesempatan datang kepada Nuruddin untuk dapat menguasai Mesir setelah salah seorang
yang bersaing untuk merebutkan kementerian meminta bantuan kepadanya atau
musuhnya yang bernama Dhargham pada tahun 559 H. Ia menawarkan kepadanya
sepertiga dari pendapatan negara setelah dibayar kepada para tentara dan komandan
mereka yang akan mengirimkannya yang bermukim di Mesir, dan bertindak sesuai
dengan perintah Nuruddin. Ia mengirim Asaduddin Syerkukh yang dapat menaklukkan
dan membunuh Dhargham. Namun Shawar berkhianat kepada Syerkukh dengan cara
meminta bantuan kepada tentara Eropa untuk dapat mengusir musuhnya ini. Maka tentara
Salibis ini datang dengan mengepung Syerkukh dan pengikutnya di Bilbis selama tiga
bulan sampai kepada mereka kemenangan-kemenangan Nuruddin yang dapat
memasukkan Harem di bawah kekuasaannya. Maka ia tawarkan kepada Syerkukh
perdamaian dan diperbolehkan untuk kembali ke Syria maka ia sepakati itu namun ia
belum tahu tindakan apa akan diberikan Nuruddin kepada Syria.
Persaingan antara Nuruddin dan Salibis atas Mesir terus semakin sengit, khususnya
kondisi negara Fatimid dalam keadaan lemah yang sangat dan fase keruntuhan. Maka
Nuruddin mengirim Asaduddin Syerkukh ke Mesir di Alfai Faris dalam serangan kedua
di Rabiul Awwal 562 H, dan dapat mengalahkan kekuatan Eropa dan tentara Mesir di
daerah Shaid serta menunddukkan wilayah Iskandaria dengan bantuan dari penduduk
lokal. Dan Nuruddin pergi ke Shaid dan dapat menguasainya namun ia harus kembali ke
Damaskus di bulan Zulhijjah setelah adanya kesepakatan antara kekuatannya dan Eropa
untuk tidak menyerang dan merebut wilayah yang telah ia kuasai walau hanya satu desa.

Pada ekspedisi yang ketiga, Nuruddin dapat menguasai seluruh wilayah Mesir di bawah
pimpinan Asaduddin Syerkukh pada bulan Rabiul Awal 564 H. Pada waktu itu pasukan
Eropa dapat memekarkan hegemoninya di Mesir berkat aliansinya dengan (Syawar).
Mereka dapat menguasai pintu masuk Kairo, menempatkan pasukan berani mati dan
pembesar pasukan berkuda “Dan memerintah umat Islam secara tidak adil dan mereka
bebankan kepada mereka berbagai penderitaan yang berat”. Kekuatan Eropa
memperlihatkan ketamakan mereka untuk merebut Mesir. Maka datang ekspedisi di
bawah pimpinan raja Bait al maqdis dan menduduki Bilbis secara paksa dengan


12






membunuh, menawan dan mengepung kota Kairo. Khalifah Al ‘Adhid mengirim utusan kepada Nuruddin untuk meminta bantuan dengan membawa potongan rambut wanita
yang diletakkan di dalam buku. Dan berkata bahwa ini adalah rambut wanita dari
wilayahku meminta bantuan kepadamu untuk menyelamatkan mereka dari pasukan
Eropa. Maka Nuruddin mengirimkan ekspedisinya yang ketiga. Ketika pasukan
Asaduddin mendekati Mesir kekuatan Eropa menyerah dan keluar dari wilayah tersebut. Ekspedisi ini berakhir dengan kemenangan Asaduddin yang dapat menguasai Mesir dan menteri Syawar mati terbunuh. Asaduddin dinobatkan sebagai successor-nya di
pemerintahan yang ada pada bulan Januari 1169-17 Rabiul Awal 564 H. Dan beliau
meninggal dunia setelah dua bulan kemudian pada tanggal 22 jumadil Akhir yang
akhirnya digantikan oleh Shalahuddin Yusuf al Ayubi.
Dan atas perintah dari Nuruddin, Shalahuddin akhirnya dapat menumbangkan
kekhilafaan Fatimiyah dan kemesraan khilafah Al Abbasi harus berakhir pada hari Jum’at kedua dari bulan Muharam 567 H-10 September 1171 M. Al Dan khalifahnya yang
bernama ‘Abidh, juga meninggal secara tidak ketahuan pada tanggal 10 Muharram.
Beginilah liku-liku perjalanan waktu dengan berbagai peristiwa yang akhirnya dapat
menggabungkan Mesir ke dalam kekhilafaan Al Abbasiyah secara nominal (ismiyyan) dan tunduk dibawah kendali kepemimpinan Nuruddin secara de facto.

Pada tahun 566 H - 1170 M, Nuruddin kembali dapan menyunifikasi wilayah Moushal
dan kresidenannya ke dalam pangkuan pemerintahannya. Sebagaimana ia juga berhasil
menggabungkan Yaman pada tahun 569 H - 1173 M, setelah mengizinkan Shalahuddin
untuk membukanya. Maka ia mengirim saudaranya Tauran Syah bin Ayub ke sana yang
dapat mengendalikan pemerintahan di sana secara utuh. Akhirnya front Islam bersatu
dapat diwujudkan yang membentang dari Iraq ke Syria, Mesir dan Yaman yang memberi
aba-aba akan semakin mendekatnya waktu bagi umat untuk dapat menghancurkan
kekuatan Salibis.
Sepanjang masa pemerintahan ini yang berlangsung dari 1146 - 1174 M, berbagai
pertempuran dan peperangan jihad terjadi antara Nuruddin dan Salibis. Pada waktu
pemerintahannya terus mendorong dan menyatukan energi-energi umat, ia terus
melancarkan ekspansi secara bertahap untuk dapat menguasai kerajaan-kerajaan Salibis dan memperlemah kekuasaan mereka hari demi hari. Dan ini dianggap sebagai
peperangan partisi (partition battle). Dengan derap langkah jihad Islami yang terus
melaju saatu itu ia berhasil menundukkan lebih kurang 50 kota dan benteng yang
sebelum dikuasai oleh Salibis.

Maka sejak permulaan pemerintahannya, ia telah dapat menguasai wilayah Ar Raha dan Shaffa al Amlaak yang wilayah-wilayah lainnya (Tal Basyar, Samisat, Benteng Romawi, Daluk, Rawandan, Qurus, Mur’is, I’zar, ‘Intab dan Beerah..) dan itu terjadi antara tahun
1146-1151M.

Sebagaimana ia juga dapat membebaskan seluruh tanah yangsebelumnya menjadi bagian
dari wilayah Emirat Antakiya Timur dari sungai Al ‘Ashi (1147-1149 M) di mana salah
satu dari pengerannya Raymond dan ketua aliran kebatinan yang bekerjasama dengan


13






mereka melawan umat Islam Ali bin Wafa, terbunuh dalam satu pertempuran yang terjadi
(Anab, 29 Juli 1149 M). Ia juga punya peranan yang sangat substansial dalam
menaklukkan ekspedisi Salibis yang kedua pada tahun 1147-1148 yang diikuti oleh Raja
Perancis, Louis Ketujuh dan Kounrat, Kaisar Jerman yang Ketiga. Periode ini dianggap
sebagai poin peralihan yang sangat signifikan dalam sejarah Perang Salib di mana
prestise kekuatan Salibis dapat dipatahkan dan spirit juang umat Islam terus meningkat.
Peperangan demi peperangan terus terjadi dengan kemenangan yang silih berganti.
Berbagai peperangan yang signifikan terjadi yang mengakibatkan hegemoni Salibis yang terus melemah. Banyak wilayah baru yang bergabung kepada pemerintahan Nuruddin dengan mengorbankan kepentingan Salibis…sehingga ia memutuskan untuk
memasukkan kerajaan Salibis di Bait al Maqdis ke dalam kekuasaannya.
Shalahuddin Al Ayubi melanjutkan Perjalanan Nuruddin :
Pada tahun 1173 M-569 H, Nuruddin telah siap untuk melancarkan serangan final ke Bait
al Maqdis dan membebaskan tanah tempat berisra’-nya Rasulullah SAW dari
cengkraman hegemoni Salibis. Untuk itu maka ia telah mempersiapkan satu mimbar baru
yang cantik sekali yang diperuntukkan penggunaannya di Masjid al Aqsa setelah
keberhasilan umat menaklukkan Salibis. Ia berkirim surat kepada bawahannya di Mesir,
Shalahuddin al Ayubi namun kematian terlalu cepat menjemputnya. Maka ia dipanggil
oleh Allah pada tanggal 15 Mei 1174 M yang bertepatan dengan 11 Syawwal 570 H.
Begitulah akhirnya lembaran-lembaran substansial dalam lembaran jihad pada masa
peperangan Salib harus berlabuh. Tapi lembaran berikutnya juga sangat menjanjikan dan
mengesankan dalam perjalanan sejarah. Yaitu lembaran Shalahuddin al Ayubi yang
mengusung bendera—setelah Nuruddin Mahmud—dengan menapaki jejak
perjalanannya. Manhaj dan solusi Islami untuk menghancurkan Salibis dan membebaskan
tanah suci telah dirancang.

Shalahuddin muncul di saat kondisi yang diwariskan oleh pendahulunya dalam keadaan yang kondusif untuk mengembalikan tanah suci. Dan kesempatan ini benar-benar
dimanfaatkan olehnya dan berhasil memetik buahnya yang telah matang setelah beberapa tahun pemerintahannya.

Shalahuddin Yusuf bin Ayyub dilahirkan pada tahun 532 H-1137 M di benteng Takrit, di mana orang tuanya adalah gubernurnya. Ia, bapak dan pamannya secara keseluruhan berbakti kepada Nuruddin. Pamannya yang bernama Asaduddin Syerkukh berpartisipasi dalam ekspedisi- ekspedisi yang ketiga yang dilancarkan terhadap Mesir. Ia memegang kementerian di sana dalam usia 32 tahun.

Shalahuddin berkarakter yang baik, banyak berzikir, sangat persisten dalam menjalankan
shalat jama’ah, rajin melakukan shalat sunnah dan nawafil dan shalat malam. Ia gemar
mendengarkan ayat suci Al Qur’an dan menyeleksi imamnya, hatinya sangat halus
khusyu’ sembari berair mata saat mendengarkan lantunan ayat suci al Qur’an. Ia juga
punya hobi yang sangat untuk mendengarkan hadits dan getol untuk membesarkan syiar-
syiar Allah. Ia selalu berhusnudhan kepada Allah, banyak berserah diri dan bertawakkal
kepada-Nya.


14






Shalahuddin adalah orang yang adil, penyayang, pengasih dan menjadi penolong bagi
kaum lemah di hadapan orang kuat. Ia adalah sosok yang pemurah, berperilaku baik,
akhlaknya lembut, mengadakan pertemuan yang suci di mana tidak ada yang berbicara
kecuali yang baik, suci pendengaran, lisan dan hati. Dan ia tidak pernah menyakiti orang lain sama sekali.

Ia adalah sosok yang pemberani, kuat dan persisten dalam berjihad serta punya kemauan
yang tinggi. Pada suatu hari ia berkata di dekat Aka “Di dalam jiwaku bahwa bilamana
Allah memudahkan bagiku penaklukan daerah pesisir lain maka akan ku bagi negeri, aku
berwasiat, menitipkan dan akan mengarungi lautan hingga sampai ke wilayah pulau-
pulau serta terus mengikuti mereka hingga tidak akan tersisa lagi di atas bumi ini orang
yang kafir kepada Allah atau aku yang mati”. Shalahuddin meninggal dunia dengan tidak
meninggalkan harta yang harus dizakatkan dan semua harta yang ia miliki telah terkuras
disedekahkan. Dan tidak meninggalkan perak dan emas di dalam pundi-pundinya kecuali
47 dirham Nashiriyyah, satu dinar dari emas. Ia juga tidak meninggalkan harta dan
rumah, properti dan sawah ladang. Ia bercita-cita keras untuk dapat menunaikan ibadah
haji pada tahun wafatnya namun hal itu tidak dapat dilakukan karena kemiskinannya dan
waktu yang terlalu sempit.

Ketika Nuruddin meninggal dunia, anaknya yang bernama As Sholeh Isma’il dibaiat
untuk menggantikannya pada usia 11 tahun dan karena usianya yang terlalu muda maka
ditunjukkan Atabika Syamsuddin bin al Miqdam sebagai representasinya. Para umara
berselisih dan berbagai isu timbul dan terus memanas. Dalam kondisi seperti ini, pada
satu sisi muncullah orang-orang berandalan dan minuman keras terus menyebar di
masyarakat, berbagai bentuk kejahatan terus tumbuh dengan subur. Pada sisi lain,
kekuatan musuh sangat berkeinginan keras untuk menggerogoti kekuatan umat Islam.
Serangan Eropa kepada umat Islam mendapat perlawanan di daerah Banyas, namun
perlawanan ini terlalu lemah untuk membendung mereka. Kondisi ini membuat umat
Islam harus mengeluarkan harta yang tidak sedikit kepada musuh dan bernegosiasi untuk
menyepakati genjatan senjata. Wilayah Al Jazirah akhirnya keluar dari pangkuan
pemerintahan Shaleh Isma’il. Dan para umara yang berkuasa di belakang Shaleh dari
bani Ad Daayah diusir dan dipenjarakan, mereka adalah para umara yang dekat dengan
Nuruddin (Syamsuddin bin Ad Daayah dan Majduddin bin Ad Daayah, anak asuh
Nurruddin). Dan semua apa yang telah disebutkan diatas adalah hal-hal yang
menyebabkan kemarahan Shalahuddin kepada para umara yang berkuasa di kerajaan
Shaleh, apalagi karena mereka menganggap bahwa diri mereka adalah yang paling
berhak untuk mengawasi pendidikan dan pelayanan kepada Raja Shaleh.
Dari sini mulai terbuka pintu bagi sebuah sistem pemerintahan warisan (keturunan),
lenyapnya berbagai lembaga “konstitusional” konsultatif, pertikaian memperebutkan
kekuasaan terjadi dan ambisi untuk memimpin tumbuh subur…ada domain yang terbuka
lebar di depan periode baru ini yaitu konflik dan perselisihan yang terjadi di antara umat
Islam sehingga memperlambat proses al harb al faashilah (perang yang sangat
menentukan) yang telah dipersiapkan oleh Nuruddin jauh sebelumnya. Dan Shalahuddin
terpaksa harus kembali menceburkan diri ke dalam kancah peperangan baru untuk
mempersatukan umat. Hal ini belum dapat diwujudkan kecuali setelah lebih dari 12 tahun


15






kemudian. Pada bulan Rabiul Awwal 570 H - Nopember 1174, Shalahuddin berhasil
untuk menyatukan Damaskus secara damai, kemudian menyusul kota Homs dengan
tanpa bentengnya pada tanggal 10 Desember 1174 M. Dan pada tangal 28 Desember
1174 M, ia dapat merebut kerajaan Hamah sekaligus bentengnya kemudian kembali dari
sana baru ia dapat menguasai benteng Homs. Pada tahun itu juga di bulan Ramadhan ia
berhasil menduduki kota Baklabak, maka mayoritas wilayah Syria berada di bawah
kekuasaannya. Sepanjang masa tersebut, Shalahuddin tetap menjaga loyalitasnya yang
tinggi kepada Shaleh bin Nuruddin dan mendoakannya di masjid-masjid bahkan
menuliskan namanya di atas uang koin. Namun setelah kemenangan Shalahuddin di
dalam peperangan yang terjadi di antara pasukannya di satu pihak dan pasukan Aleppo,
Mousal Zanki di pihak, pada saat itu ia mulai memutus kemesraan hubungan ini dan uang koin yang bertuliskan raja Shaleh. Ia kemudian disebut sebagai raja Mesir dan Syria serta menobatkan dirinya sebagai khalifah di sana. Kemudian pada tahun yang sama (570 H)
Shalahuddin dapat menguasai benteng Ba’reen.

Pada tahun berikutnya (570 H, Shalahuddin menguasai Baza’a, Manbaj dan I’zaz. Pada
tahun 577 H, Raja Shaleh Ismail meninggal dunia di kota Aleppo dalam usia yang kurang
dari 20 tahun. Dan pada tahun 578 H, Shalahuddin menyeberangi sungai Eufrat dan
kerajaan wilayah Jazeerah (Ar Raha, Huran dan Riqqa) serta kerajaan Sinjaar. Pada tahun
579 H, ia terus merayap menguasai wilayah Amid, Bukit Khalid dan Intab. Menduduki
Aleppo pada bulan Shafar tahun itu juga setelah ditinggalkan oleh Imaduddin bin
Maudud bin Zanki, sebagai pejuang daerah Sinjar, Nashibin, Al Khabur, Riqqa dan Saruj.
Dan dengan keberhasilan Shalahuddin menduduki Aleppo—setelah melakukan
pengepungan yang berulang-ulang—Raja Shalahuddin baru merasakan kestabilan setelah
kondisi, sebagaimana ia juga menguasai Benteng Harem. Pada tahun 571 H, Shalahuddin
menduduki Miyafarqin, Syerzur, Qarabili dan seluruh wilayah setelah sungai Zab. Dan
yang terakhir ia memasuki wilayah Mousal dan wilayah kecil yang tunduk kepadanya ke
dalam pemerintahan Shalahuddin pada tahun 582 H - 1186 M.

Periode 569-582 H (1174-1186 M) merupakan periode yang tidak pernah sepi dengan
berbagai peperangan sengit dengan pasukan Salibis, peperangan ini pula memberikan
kontribusi untuk tetap melestarikan prestise umat Islam dan memberi mereka peluang
untuk mengintrodusir berbagai abilitas musuh dan titik-titik kelemahan mereka. Itu juga
memberi kesempatan kepada umat untuk mengetahui sisi-sisi minus mereka yang perlu
diperbaiki dan tidak memberi musuh ruang waktu yang cukup untuk memperkuat,
berekspansi dan menyebar. Namun Sahalahuddin belum juga memasuki perang harbun faashilah (peperangan yang sangat menentukan) melawan Salibis.
Di sini kita melintasi berbagai peristiwa penting yang terjadi saat itu dengan Salibis. Pada
tahun 570 H, kekuatan umat Islam dapat mengalahkan armada Salibis yang datang dari
Sisilia dengan kemenangan yang gemilang. Karena kekuatan ini yang telah menaklukkan
perlawanan Iskandaria yang berkuatan 50 ribu tentara. Pada tahun 573 H, Shalahuddin
dapat memenangkan pertempuran dengan orang Eropa dari arah Mesir hingga datang ke
wilayah Asqalan. Wilayah ini ia buka, menawan, membunuh dan membakar. Kemudian
armada Shalahuddin berlayar, setelah menyaksikan bahwa Salibis tidak memunculkan
kekuatan mereka. Shalahuddin terus berjalan memasuki wilayah Ar Ramlah, di sana


16






mereka diserang secara tiba-tiba namun ia dapat mengalahkan mereka. Akhirnya ia
kembali dengan jumlah tentara yang berjumlah kecil dan dalam kondisi yang serba sulit.
Ini merupakan pelajaran yang berat baginya. Dan dalam tahun yang sama, pasukan Eropa mulai mengepung kota Hamah dan Jarem tapi upaya ini gagal. Pada tahun berikutnya,
Eropa kembali melancarkan serangan atas kota Hamah. Pada tahun 575 H, Shalahuddin
membalas dengan menyerang daerah yang dikuasai oleh Salibis dan
memporakporandakan benteng yang mereka bangun dengan deraian rasa sedih dekat
Banyas. Lalu terjadilah pertempuran sengit yang berakhir dengan kemenangan di pihak
muslim, banyak pimpinan pucuk tentara musuh yang ditawan namun raja mereka dapat
meloloskan diri. Di antara mereka yang tertangkap adalah : ibn Birzan, penguasa Ramlah
dan Nablus yang merupakan wilayah yang punya tempat di sisi raja Eropa, saudaranya
yang menguasai Jabil juga ditawan, sebagaimana juga dengan para penguasa Thibriyah,
Miqdam Ad Daawiyah dan Janin.
Pada tahun 578 H, Shalahuddin melancarkan serangan-serangan ke wilayah yang
dikuasai Eropa dengan konsentrasi pada daerah Syaubik dan Karak. Pasukan muslim juga dapat membuka Syakif dengan cara militer di bawah komando Farakhsyah (gubernur Damaskus). Ia juga menyerang Bisan dan merampas kekayaannya. Pasukan Arab ini
terus melaju dan menyerang daerah Janin, Al Lajuun hingga mendekati Akaa.

Pada tahun yang sama, armada Shalahuddin dapat mengalahkan armada yang
dikomandoi Arnath (Ronald De Syateaun) yaitu penguasa Karak di wilayah Laut Merah untuk merusak daerah pesisir kaum muslimin dan daerah Mekkah serta Madinah. Ia mengirim beberapa tawanan ke Mina untuk disembelih sebagai peringatan bagi mereka yang mengintimidasi tempat sakral Allah.

Pada tahun 579 H, Shalahuddin menyeberangi sungai Jordania pada tanggal 19 Jumadil Akhir dengan tujuan Bisan dengan membakar tempat-tempat utama orang Salibis dan
merusaknya “Pasukan Islam menyerang aktifitas mereka baik pada sisi kanan dan kiri, hingga mereka harus melakukan sesuatu yang tidak berniat sama sekali dan berani
melakukannya”.

Sebagaimana Shalahuddin juga melancarkan serangan ke Karak dan kembali dengan
mengepungnya pada tahun berikutnya, namun upaya ini tidak berhasil. Kemudian ia
melanjutkan ekspedisinya ke Nablus pada tahun 580 H dan menyerang para patronase
Salibis saat dalam perjalanan. Ketiga tiba di Nablu, mereka melancarkan serangan kepada
Salibis dan menghancurkan bases mereka, mereka terbunuh, tertangkap dan tertawan.
Kemudian berjalan ke Sabsthiyah dan dapat menyelamatkan sekelompok tawanan
muslim, dan mereka tiba di Janin dengan menghancurkan basis-basis orang Eropa di sana
dan merampas harta. Lalu mereka kembali ke Damaskus dengan menyebarkan beberapa
batalyon tentara ke berbagai tempat merampas harta perang dan menghancurkan
kerajaan-kerajaan Salibis.

Pada tahun 572 H, Raja Eropa meninggal dunia di Bait al Maqdis dan digantikan oleh
seorang anak kecil yang akhirnya menimbulkan perselisihan karena tamak akan
kekuasaan di antara mereka. Ini yang membuat penguasa Tripoli untuk melayangkan


17






surat kepada Shalahuddin dan menjalin aliansi untuk melawan para sahabatnya orang Eropa. Pada tahun yang sama penguasa Karak, Arnold berkhianat dengan menyerang kafilah dagang muslim dengan merampas seluruh harta mereka. Ia tidak merespon
tuntutan dan ancaman Shalahuddin untuk melepas apa yang mereka telah ambil. Maka ia bersumpah akan membunuh Arnold bila dapat mengalahkannya.

Memasuki tahun 583 H, berbagai kondisi untuk menyongsong perang final telah siap dari kesatuan kekuatan umat Islam dan hancurnya prestise Salibis serta pengalaman luas
dalam seni berinteraksi dengan musuh. Dengan ini maka Shalahuddin memasuki perang yang dinamakan perang Hithin.

Untuk menghadapi perang ini, Shalahuddin mempersiapkan pasukannya sekitar 12 ribu tentara reguler di luar para sukarelawan. Dan tentara Salibis mempersiapkan diri dengan berekonsiliasi dan menyunifikasi kerajaan dan balatentaranya yang berhasil membentuk kekuatan yang berjumlah lebih kurang 63 ribu tentara.

Shalahuddin menyeberangi sungai Jordania dan membuka wilayah Thibriyah dengan
tanpa benteng. Clash antar kedua kubu ini dimulai hari Jum’at namun peperangan kian
memanas pada hari Sabtu pada tanggal 24 Rabiul Akhi 583 H - 4 Juli 1187 M. Kekuatan
Eropa merasakan terik panas dan dahaga yang sangat, sementara kekuatan Islam
mengepung mereka dengan membakar rumput kering yang ada sehingga membuat para
musuh melengkapi penderitaan mereka dari serangan panasnya matahari, dahaga, api dan
persenjataan serta serangan yang dilancarkan oleh para pemanah. Kemudian Shalahuddin
memerintahkan pasukannya untuk bertakbir dan menyerang dengan sungguh-sungguh.
Maka Allah anugerahkan kepada umat Islam kemenangan dengan berhasil membantai
lebih kurang 30 ribu dan menawan 30 ribu lainnya. Dan di antara mereka yang tertawan
adalah seluruh raja-raja mereka kecuali penguasa Tripoli. Menurut sebagian riwayat
mengatakan bahwa “belum pernah terdengar peristiwa yang benar-benar memperlihat
kekuata (‘izz) Islam dan umatnya seperti apa yang terjadi pada hari ini yang mampu
mendobrak kebatilan dan pengikutnya. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa sebagian
para petani melihat orang-orang yang memboyong lebih dari 30-an tawanan dari
bangsa Eropa yang terikat dengan tali kemah. Dan sebagian lainnya ada yang
dipejualbelikan dengan sandal untuk dipakai. Persoalan-persoalan yang berjalan belum
pernah terdengar kecuali yang terjadi di zaman para sahabat dan tabi’in.”
Dan mereka yang jatuh tertawan adalah Raja Jai, penguasa Bait al Maqdis, saudaranya
dan Arnold, penguasa Karak yang dibunuh dengan tangan kanannya Shalahuddin karena
pengkhianatan dan penganiayaannya yang ia lakukan terhadap muslim. Mereka juga
menawan Shahib Jabil dan Ibn Henfari, Miqdam ad Dawiyah dan sekelompok dari
Dawiyah dan Isibtariyah. Orang-orang dari Dawiyah dan Isibtariyah dihukum mati
karena permusuhan dan prejudice mereka yang sangat kepada umat Islam.

Inilah peristiwa Hithin yang merupakan salah satu perang final yang terjadi dalam sejarah
Islam dan sejarah Palestina. Di mana umat Islam terus menghiasi malam-malam dengan
gema takbir dan tahlil serta diakhiri dengan sujudnya Shalahuddin di depan keagungan
Allah sebagai tanda syukur setelah runtuhnya kemahnya Raja Eropa dan yang lainnya.


18






Setelah peperangan ini telah terbuka lebar di depan mata umat Islam jalan untuk
membebaskan mayoritas wilayah Palestina. Maka dalam hitungan hari wilayah Thibriyah
ditaklukkan kemudian Aka (pada tanggal 10 Juli), Nashira, Shafuriyah, Kaisariah, Haifa,
Arsuf, Nablus, Faulah, Daburiyah, Janin, Za’in, Thur, Lajun, Bisan, semua wilayah yang
menginduk kepada daerah Thibriyah dan Aka, lalu Yafa. Kemudian umat Islam merayap
menuju arah Utara dengan membuka benteng Tabnia, Shaida (29 Yuli), Beirut (6
Agustus) dan Jabil. Terus melanjutkan perjalanan ke arah Selatan untuk melengkapi
upaya membebaskan Palestina, maka mereka membuka Ramlah, Yabna, Bethlehem,
Hebron, Asqalan (4 September), Ghaza dam Darum. Shalahuddin bermalam di Asqalan
hingga benteng Dawiyah dapat diserahkan di Ghaza, Nathrun dan Bait Jibril…dan yang
lainnya. Semua ini dalam diselesaikan hanya dalam tempo lebih kurang dua bulan dan
ada juga yang dikepung bertahun-tahun baru kemudian dapat ditaklukkan. Jumlah daerah
yang telah dibuka sekitar 50 wilayah besar dan setiap wilayah punya pasukan, benteng
dan perlindungan.
Pembebasan Bait al Maqdis :
Semua perhatian tersedot ke arah Bait al Maqdis, maka Shalahuddin terlah
mempersiapkan segala perlengkapannya dan memulai pengepungan atas kota ini pada
pertengahan bulan Rajab 583 H - 20 September 1187 M. Pasukan musuh telah
terkonsentrasi di dalam kota ini sebanyak 60 ribu pasukan Salibis yang semuanya telah
memutuskan untuk lebih baik mati daripada harus menyerahkan wilayah kota ini. Pada
masa pengepungan terjadi berbagai pertempuran. Pasukan Islam berusaha untuk
merangsek masuk dan menyerang, maka terjadilah pertempuran yang paling sengit yang
pernah disaksikan oleh manusia. Setiap pihak hanya melihat pada motivasi agama yang
wajib bagi masing-masing, maka tidak ada lagi satu motif untuk kekuasaan.
Orang Eropa menuntut damai dengan imbalan menyerahkan kota, dan bila itu tidak
dipenuhi mereka mengancam akan membantai ribuan tawanan muslim. Kemudian
mereka membunuh para wanita dan keturunan mereka yang Nasrani, membakar dan
menghancurkan seluruh harta benda, membunuh binatang ternak, merusakkan masjid al
Aqsa dan Batu Shahrah, lalu mereka keluar untuk bertempur hingga titik darah terakhir.
Shalahuddin berkonsultasi dengan para sahabatnya, maka mereka berijma untuk
memberikan isyarat damai. Lalu diberikan kepada mereka perdamaian. Akhirnya usai
sudah proses kemenangan umat Islam atas Al Quds pada tanggal 28 Rajab 583 H - 2
Oktober 1187 M. Di sini nampak kelihatan jiwa toleran dan kasih sayang seorang
Shalahuddin yang juga diakui oleh kebanyakan orang-orang Nashrani.

Begitulah akhirnya Bait al Maqdis kembali diperintah di bawah bendera Islam setelah 91 tahun Hijriah (88 tahun Masehi). Keagungan dan kemuliaan Masjid Al Aqsa dapat
dikembalikan, suara kumandang azan kembali bergema dengan anggunnya. Akhirnya
mimbar yang sudah dipersiapkan dua puluh tahun sebelumnya oleh Shalahuddin benarbenar dapat diletakkan.

Dan yang terpenting untuk kita sinyalir di sini bahwa Shalahuddin tetap terus membuka
kota-kota dan benteng-benteng Salibis lainnya. Daerah Jablah, Latakia dan benteng Zion
juga diduduki pada tahun 584 H. Benteng Bakas, Syaghar, Sarminiay, Birziyah, Darb


19






Salik, Baghras juga dibuka sebagaimana Karak yang sekitaranya seperti Syaubik setelah
pengepungan yang panjang dan dengan cara damai. Wilayah Shifd juga ditaklukkan oleh
Shalahuddin secara damai setelah pengepungan dan kaburnya pasukan Salibis ke wilayah
Shur dan begitu juga dengan Kaukab juga diduduki. Pada bulan Rabiul Awal 585 H,
Shalahuddin menduduki Syaqif Arnon yang merupakan benteng yang paling terkuat
resistensinya.
Kelanjutan Jihad melawan kekuatan Salibis :
Kekuatan Salibis yang sudah kehilangan kota-kota dan benteng-benteng berkumpul di
kota Sour. Shalahuddin terlalu toleran dan berlemah-lembut dan mengizinkan mereka
untuk pergi ke kota tersebut secara bebas. Maka mereka berkesempatan untuk meminta
asistensi dan mendapatkan dukungan baru sehingga kembali menjadi kuat. Lebih dari itu,
Shalahuddin telah membebaskan raja Jai pada tahun 584 H dengan syarat ia harus benar-
benar pulang ke Perancis. Namun ternyata Jai menuju kota Sour dan mengambil pucuk
komando kekuatan Salibis berkat bantuan armada Biza dari Italia. Pada kesempatan ini,
Ibn Katsir mengatakan : “Semua itu terjadi karena kesalah yang diperbuat oleh
Shalahuddin untuk membebaskan mereka yang telah tertangkap. Maka dari itu ia harus
menggigit jarinya sendiri sebagai wujud penyesalan yang tidak ada gunanya lagi.”

Balatentara Salibis melancarkan serangan dari kota Sour ke kota Aka pada tahun 585 H -
1189 M. Mereka berdiam hingga datang balabantuan ekspedisi ketiga yang diserukan
oleh Paus Urban Kedua yang diberi nama dengan misi “perebutan kembali” Bait al
Maqdis yang dikomandoi oleh tiga Raja Eropa yaitu Fredrik Barbarosa, yang mana
sebagian besar pasukannya mati di tengah perjalanan, Richard yang “Berhati Singa”
Raja Inggris yang datang dari arah laut. Kemudian Phillip Augustas, Raja Perancis.
Richard merupakan orang yang hebat yang merupakan orang Eropa yang paling jahat dan
punya kebencian yang sangat terhadap orang Islam”. Ia merupakan sosok pemberani,
terhormat dan penyabar. Ia adalah rintangan yang paling berat bagi muslim. Tiga
kekuatan ini yang mengepung kota Akka (pada bulan Raiul Tsani- Jumadil Ula 587 H
(Juni 1191 M). Dan kota ini jatuh ke tangan mereka pada tanggal 17 Jamadil Ula 587 H
(12 Juli 1191 M). Dengan pendudukan ini, kekuatan Salibis berupaya yntuk dapat
membangun basis kekuatan kembali di Palestina. Umat Islam kembali membalas dan
terjadilah berbagai pertempuran antara kedua belah pihak. Namun, Salibis terus
melanjutkan ekspansi dengan merebut teritori wilayah Selatan pantai dengan menduduki
kota-kota Haifa dan Jaffa.

Perlu untuk dicatat bahwa konflik yang terjadi sungguh bersimbah darah dan sangat
pahit. Sebagaimana hal ini disinyalir oleh Ibn Katsir bahwa Shalahuddin bermukim di
Akka bersabar dan bersabar berdiam di sana selama 37 bulan dan mereka yang terbunuh
dari pasukan Salibis berjumlah 50 ribu tentara. Ekspedisi militer Ketiga Salibis ini
diakhirnya dengan diadakannya perdamaian Ar Ramlah antara Richard si “Hati Singa”
dan Shalahuddin al Ayubi pada tanggal 21 Sya’ban 588 H - 1 September 1192 M. Ini
merupakan genjatan senjata selama 3 tahun 3 bulan. Eropa menuntut untuk menguasai
wilayah pesisir dari Yafa ke Akka dan diperbolehkan untuk menziarahi Al Quds dan
bebas untuk berdagang dan keluar masuknya kafilah masing-masing. Di sini perlu kita
menegaskan beberapa poin di bawah ini yang berhubungan dengan perdamaian di atas di


20






mana banyak dari kita yang terserang dewasa ini menyandarkan argumentasinya kepada kelalaian mereka akan hak-hak Islam dan umatnya dan berubah menjadi pendukung
Yahudi :

1- Shalahuddin tidak pernah menginginkan diadakannya perdamaian dan ketika
mendatangkan para konsultannya, ia tetap bersikukuh untuk tidak menyetujui
genjatan senjata. Al Imad al Ashfahani menulis dengan caranya sendiri tentang
Shalahuddin : “Kita, dengan syukur kepada Allah tetap dalam kondisi kuat, dan
sudah mendekati kemenangan yang diidamkan. Kita sudah terbiasa dengan
Jihad, maka hal ini membuat kita sulit untuk hidup tanpanya. Kita tidak ada hal
yang lain yang dapat kita kerjakan kecuali terus memerangi para Salibis.
Menurut pandangan saya bahwa saya harus meninggalkan segala sesuatu yang
berkenaan dengan genjatan senjata, bahkan sebaliknya kita harus memilih Jihad
yang memberikan kita kekuatan dan kehormatan. Hanya Allah yang menolong
dan hanya karena-Nya saya mengambil keputusan dan berserah diri.”

Namun para konsultannya berijma’ untuk menerima tawaran damai dengan alasan
kerusakan negara, keletihan para tentara dan rakyat dan persediaan bahan
makanan yang sedikit. Dan karena orang Eropa bersikeras untuk berdamai dan
bila saja hal tersebut tidak terwujud maka akan tetap tinggal di sana dan
melanjutkan peperangan. Adapun bila terjadi perdamaian maka rakyat dan
pembangunan negeri akan kembali aktif, para pasukan akan sedikit lega,
memperkuat diri dan bersiap-siap untuk peperangan. Menurut pendapat mereka
bahwa orang Eropa itu tidak akan khianat dengan janji-janji mereka, oleh karena
itu mereka menasehati Shalahuddin untuk mengadakan genjatan senjata sehingga
para musuh berpisah dan bubar. Mereka tetap saja menganjurkan itu sehingga ia
menyetujuinya.

2- Sesungguhnya perdamaian ini adalah temporer dalam waktu yang sangat singkat
dan bukan perjanjian damai yang abadi. Hal serupa juga pernah diadakan sebelum
dan sesudahnya. Dan ini diperbolehkan di dalam tinjauan Syariah Islam sesuai
dengan maslahat yang ditetapkan oleh para pemimpin umat Islam. Dan berbagai
konflik dan peperangan lain juga terus berlanjut setelah itu.

3- Belum pernah ada dalam perjanjian damai ini pengakuan bagi orang Eropa atas
hak apapun tentang tanah Palestina. Namun yang ada adalah genjatan senjata
yang meniadakan peperangan yang membawah kerusakan negara hingga berakhir
masa waktunya yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.

Apa bedanya antara genjatan senjata yang diadakan oleh orang Islam yang puluhan kali dan penjanjian damai dengan negara Zionis yang terjadi dewasa ini.
Yang penting bahwa sesungguhnya perdamaian yang sudah disepakati harus ditinggalkan oleh Shalahuddin (rahimahullah) yang wafat pada tanggal 27 Shafar 589 H - 4 Maret 1193 M. Atau hanya tiga bulan setelah disepakatinya perjanjian Ar Ramlah.



21






Kekuatan Pengikut Ayub dan Konflik dengan Salibis :
Setelah wafatnya Shalahuddin, kembali perselisihan dan perpecahan terjadi antara para
suksesor sang pemimpin. Beberapa tahun setelah kematiannya terjadi konflik-konflik
berdarah yang sangat melemahkan kekuatan mereka. Di lain pihak kerajaan Salibis
semakin solid dan terkonsolidasi yang terus berlanjut dan terkadang berekspansi keluar
dengan mengorbankan kekuasaan Islam. Sungguh kecintaan akan dunia, kekuasaan yang
menjadi pemicu pertikaian walaupun harus mengorbarkan prinsip-prinsip dan hal-hal
sakral sekalipun. Ini yang menjadi salah satu fenomena beberapa penguasa dan sultan-
sultan di negara Ayubiyah. Sebagian ada yang beraliansi dengan Salibis untuk melawan
yang lain dengan kompensasi Bait al Maqdis, dan ini bukan hanya sekali sebagai imbalan keberhasilan Sultan Syria mengalahkan sultan Mesir atau Akas!! Para Salibis tentu
berbahagia untuk memainkan peranan seperti ini, namun mereka tetap dengan
ketamaakan mereka untuk mendapatkan keseluruhan wilayah kendati musim seminya
Salibis belum terlalu lama berlangsung.
Ekspedisi Keempat Salibis yang dikirim oleh Barat pada tahun 601 H-1204 M berakhir di
Kostantinopel—dan belum sampai ke wilayah Syria atau Mesir. Adapun ekspedisi yang
Kelima telah bertolak dari Akka saja dengan kepemimpinan Rajanya Youhana Bareen,
menuju kota Demiat di Mesir antara tahun 615-618 H (1218-1221 M). Ketika sultan
Ayubiyah yang bernama Al Kamel Mohammaed bin Muhammed bin Ayoub menyadari
kondisi yang kritis maka ia tawarkan kepada Eropa untuk berdamai dengan kompensasi
menyerahkan Al Quds dan sebagian besar wilayah yang dibuka oleh Shalahuddin. Maka
mereka menolak dan menuntut untuk diberikan wilayah Tenggara Jordan (Karak dan
Syaubik). Maka raja Isa bin Ahmad bin Ayub, penguasa Damaskus merusakkan tembok-
tembok kota al Quds agar orang Eropa tidak dapat memanfaatkannya bila itu jatuh ke
tangan mereka pada tahun 616 H - 1219 M. Namun akhirnya orang-orang Ayubiyah
mengerahkan kekuatan-kekuatan yang ada dan berhasil mengalahkan Salibis dan kembali
ke Akka setelah kehilangan satu kesempatan emas yang ditawarkan.

Kemudian perselisihan yang muncul antara al Kamel Muhammad dan al Mu’adham Isa
membuat Al Kamel Muhammad harus meminta bantuan Fredrik Kedua, Kaisar
kekaisaran Romawi yang mendapat mandat atas kerajaan Salibiyah di Akka, dengan
berjanji akan menyerahkan Al Quds bila saja dibantu melawan saudaranya Al Mu’adham
Isa. Fredrik Kedua datang dengan memimpin ekspedisi Salibis yang Keenam dan tiba di
Akka pada tahun 625 H - 1228 M. Kendati Al Mua’dham Isa meninggal dunia yang
akhirnya memungkinkan saudaranya Al Kamel dan Al Asyraf untuk membagi kerajaan
dengan memberikan kepada anaknya An Nasher Daud wilayah Karak, Balqa, Aghwar,
Salath dan Syaubik. Al Kamel sebenarnya tidak lagi membutuhkan bantuan Fredrek
Kedua namun ia lalai dengan Al Quds hanya karena ingin memenuhi janjinya kepada
Fredrik!!! Fredrik pada waktu itu tidak terlalu kuat untuk memaksa umat Islam untuk
menyerahkan Al Quds. Hanum ia benar-benar memohon kepada Al Kamel pada beberapa
tahapan negosiasinya dengan raja Ayubiyah ini yang berkata : “Saya adalah bawahanmu
dan sebagai hamba yang beriman. Kalau kemuliaanmu memberiku kehormatan untuk
mengambil wilayah, itu akan menjadi sebuah pemberian yang sangat berarti yang akan
membuatkan bangga dengan diriku di antara para raja-raja laut.” Al Kamel merespon dan
mengadakan perjanjian Jaffa pada tahun 626 H (18Februari 1229 M). Perjanjian ini akan


22






berakhir dalam 10 tahun yang menyatakan bahwa para Salibis akan mengambil tanah suci Al Quds, Betlehem, Tabneen, Honeen, Sayda dan tepian Al Quds yang trus ke Al Lad dan berakhir di Jaffa. Ini ditambah dengan beberap kota Nassira dan wilayah Barat al Jaleel. Perjanjian ini juga mengatakan bahwa tempat suci umat Islam, batu Al Shakhra dan masjidnya tetap dibiarkan untuk orang Islam.

Maka dari itu Al Quds akhirnya kembali ke pangkuan orang-orang Salibis yang
memancing amarah orang Islam. “Umat Islam sangat sedih dengan kehilangan kota Al
Quds; mereka menangis dan berteriak merintih di mana-mana. Dan ini merupakan
malapetaka besar yang menimpa mereka. Dan para sesepuh dan ulama berkata : Wahai
para raja umat Islam yang dengan peristiwa ini sangat memalukan sekali, kemurkaan
benar-benar memuncak kepada raja Al Kamel dan rakyat Damaskus menjadi benci
kepadanya dan pembantunya, dan membanjirlah kebenciaan orang kepadanya di setiap
tempat”.
Ibn Katsir berkata : “Peristiwa itu bagi umat Islam merupakan peristiwa yang sangat
memukul sekali, mereka menjadi lemah tak berdaya, dan gonjangan yang dahsyat”.

Konflik antara keturunan Al Ayubi terus berlanjut, namun Nasher Daud, penguasa Jordan
dapat memanfaatkan kesempatan setelah usainya masa validitas perjanjian damai Yafa
dan upaya Eropa untuk membentengi Bait al Maqdis, dengan mengingkari persyaratan
yang ada. Maka pada tanggal 6 Jumadil Ula 637 H - 7 Desember 1239 M, ia dapat
menguasai Al Quds dan berhasil mengusir orang-orang Eropa dari sana. Namun Shaleh
Ismail, penguasa Damaskus menyerahkannya kembali kepada mereka pada tahun 638 H-
1240 M!! Setelah ia meminta bantuan pasukan Salibis ini untuk melawan penguasa Mesir
Shaoleh Najmuddin Ayyub. Di tambah lagi dengan wilayah Asqalan, Tabariya dan kota-
kota pesisir lainnya sebagaimana juga dengan benteng Syaqib, sungai Al Mojeb, benteng
Safad dan gunung Amel. Ulah penguasa ini benar-benar membuat umat Islam jadi berang
“yang sudah terlalu marah dengan Shaleh Ismail”. Sekali lagi Al Quds berada di tangan
orang-orang Salibis.

Di saat Al Shaleh Ismail memobilisasi kekuatannya untuk berpartisipasi dengan Salibis
melawan Al Shalah Ayub di Gaza, mayoritas balatentaranya menolak untuk bergabung
dengan Salibis melawan saudara sesama muslim. Sebaliknya mereka berpaling kepada
pihak tentara Mesir dan dapat mengalahkan Salibis dengan kemenangan yang gemilang.
Namun Al Shalah Ayub berdamai dengan mereka pada tahun 638 H - 1240 M, dan
mereka dapat merebut kembali wilayah Al Quds dan mengontrolnya serta wilayah-
wilayah lain.

Sekali lagi, keturunan Ayub kembali berperang sesama mereka untuk memperebutkan
kekuasaan dan Al Quds serta tanah sucih tetap menjadi kartu yang dipermainkan untuk
mengejarkan kehancuran mereka demi kekuasaan dan prestise. Lagi-lagi Al Shaleh
Ismail menawarkan aliansi kepada Eropa di Akka dengan imbalan kekuasaan yang penuh
atas Al Quds dengan batu Shahrah dan Masjid al Aqsa dan Al Nasher Daud juga
bergabung dengan mereka. Pada kesempatan yang sama Al Shaleh Najmuddin Ayub,



23






penguasa Mesir menawarkan hal yang serupa kepada kekuatan Salibis sebagai imbalan aliansi mereka.

Namun kekuatan Salibis lebih senang beraliansi dengan Al Shaleh Ismil yang merayap
menginvasi Mesir dengan asistensi sekutu mereka Al Nashe Daud dan Al manshur
Ibrahim, raja Homs. Pada pihak lain, al Shaleh Najmuddin Ayub meminta bantuan dari
Al Khawarziyyah yang datang kepada mereka dengan kekuatan yang terdiri dari 10 ribu
balatentara yang dalam perjalanan dengan menguasai Thibriyah dan nablus. Mereka
menyerang Bait al Maqdis pada tanggal 17 Juli dan berhasil mengembalikan Bait al
Maqdis secara utuh ke dalam pekarangan Islam pada tahun 642 H - 23 Agustus 1244 M. Dan dengan demikian Bait al Maqdis kembali ke pangkuan umat Islam selamanya. Dan
terus memelihara identitasnya yang Islami sehingga kedatangan kekuatan Inggris pada
tanggal 10 Desember 1917 M.

Sesungguhnya orang-orang Khawarzimiyah datang dengan tujuan untuk memberikan
bantuan kepada Al Shaleh Ayub melawan Al Shaleh Ismail dan sekutu-sekutunya. Dan
terjadilah pertempuran Ghaza Kedua (dekat Ghaza di tempat yang bernama Hirbiya)
antara dua kekuatan tersebut pada tanggal 12 Jumadil Ula 642 H - 17 Oktober 1244 M
yang berkesudahan dengan kekalahan yang pahit bagi Al Shaleh Ismail dan Salibis.
Jumlah korban yang jatuh dari pihak Eropa diperkirakan lebih kurang dari 30 ribu di luar
800 tawanan perang yang digiring ke Mesir. Pertempuran ini merupakan pukulan yang
terkuat buat kekuatan Salibis sesudah perang Hithin. Dan peperangan ini juga
dikonsiderasi sebagai salah satu dari pertempuran yang paling krusial dalam sejarah
Palestina, karena Salibis tidak pernah berhasil untuk membangun kembali kekuatan
mereka kendati tetap mempertahankan kekuatan yang sudah mereka miliki.

Jadi Al Shalah Ayub mengambil kontrol kota Al Quds, Hebron, Ait Jabreen, Al Aqwar dan Damaskus pada tahun 642 H (1245 M). Ia memberi pelajaran kepada kekuatan
Salibis dan menduduki wilayah benteng Tabariyah dan Asqalan. Oleh karena hal ini, kerajaan Salibis hanya sebatas pintu gerbang wilayah Jaffa pada tahun 644 H (1247 M). Mesir kemudian diserang oleh ekspedisi Ketujuh Salibis, yang dipimpin oleh Louise Kesembilan, raja Perancis pada tahun 646 H (1249 M). Ekspedisi ini gagal, dan rajanya dapat dipenjarakan kemudian dibebaskan untuk pergi ke Akka. Satu tahun kemudian dinasti Ayubi mengakhiri kekuasaan mereka di Mesir dan dinasti Mamalik mengambil alih kekuasaan yang ada pada tahun 647 H (1250 M). Setelah itu fase baru dalam Jihad melawan orang-orang Mongolia dan Salibis kembali dimulai.

Al Mamalik dan Konfrontasi Mereka dengan Tartar :
Pada abad yang ketujuh Hijriah -ketiga belas Masehi—muncul bahaya bagi umat islam
yang datang dari Mongolia. Mongol sudah menyatukan kabilah-kabilah mereka di bawah komando Jengis Khan. Dan mereka memulai ekspedisi besar mereka untuk berekspansi.
Maka mereka kuasailah wilayah Mansyuriah, Cina dan Korea. Mereka juga berhasil
menghancurkan balatentara negara Al Khawarzimiyyah yang muslim pada tahun 1221 M yang merupakan benteng kuat yang dapat menghadang ekspansi mereka untuk menuju
dunia Islam lainnya. Kekuatan Mongol ini juga telah mewujudkan banyak kemenangan
gemilang dan signifikan.


24






Jengis Khan meninggal dunia pada tahun 624 H - 1227 M, namun Mongol tetap
melanjutkan estafet mereka dengan menyerang wilayah Asia Tengah, Rusia dan
menguasai Moskow sebagaimana mereka juga berhasil menduduki Ukraina dan
menyerang Polandia serta mengalahkan balatentara Jerman. Mongol menghancurkan
Hongaria setelah berhasil menyapu rata kekuatan bersenjata mereka dan terus menembus
daratan Eropa. Sebagaimana mereka juga terus merangsek masuk ke wilayah dunia
Islam, maka lengkaplah kekuasaan mereka di wilayah Turkistan, Afghanistan, India dan
Parsi.

Mongol membumihanguskan setiap kerajaan yang mereka hadapi dengan tanpa
sedikitpun ada rasa iba atau kasih sayang dan dengan perangai jahatnya yang menakutkan
telah membuat dunia menjadi ciut dari kekuatan dan serangan mereka. Maka bukan saja
karena kapabalitas dan kekuatan yang mereka miliki mereka yang membuat mereka
selalu memenangkan pertempuran tapi perang urat saraf dan imej yang menakutkan
tentang mereka juga punya andil besar yang mereka sebarkan ke dalam jiwa lawan-lawan
mereka. Bangsa Mongol ini terus memetik kemenangan perang dari yang paling ektrim
yaitu perang kilat yang bersandarkan pada kecepatan gerak sebagaimana mereka juga
memetik kemenangan perang urat sarat yang menakutkan orang akan kekuatan mereka di
setiap tempat.

Negara-negara muslim menderita perpecahan dan kelemahan yang membuat Mongol
dengan mudah merayap memasuki wilayah mereka dan meratakan kerajaan-kerajaan
mereka dengan sangat mudah. Tingkat ketidak berdayaan pemimpin Islam ini membuat
salah satu dari mereka -yang berkuasa di salah satu kota—mengirimkan gambarnya yang
dibuat di bawah telapak sepatu sebagai hadiah kepada Haluku, komandan Mongol supaya
ia dapat “termuliakan” dengan meletakkan kakinya di atas gambar penguasa Islam
tersebut.

Mongol kembali menyerbu Irak dan mengepung kota Baghdad yang merupakan ibukota
khilafah Abbasiyah yang sudah tak bergigi dan tak berdaya. Dan salah satu dari sebab
ketidakberdayaannya itu adalah konspirasi antara menteri Ibn al ‘Alqami dan Mongol
untuk menjatuhkan khilafah dan ia juga membebastugaskan pasukan khilafah dari jumlah 100 ribu menjadi 10 ribu. Baghdad jatuh pada tahun 656 H - 10 Februari 1258 M, pada
saat itu pasukan Mongol membantai umat Islam secara besar-besaran yang berlanjut
hingga 40 hari. Menurut Ibn Katsir bahwa jumlah korban yang berjatuhan saat itu lebih
kurang 800 ribu dan ada yang menyebutkan sekitar 1 juta orang. Khalifah Al Musta’shim Billah juga terbunuh, dan ada yang mengatakan bahwa ia ditempatkan di dalam kantong lalu meninggal dunia karena tendangan.

Mongol kembali menyerbu negeri Al Jazeerah dan berhasil menguasai wilayah Hurran,
Ar Raha dan Diyaar Bakr. Kemudian menyeberangi Eufrat dan memasuki daerah Aleppo
pada tahun 658 H - Januari 1260 M. Dan para penguasa Bani Ayub yang memerintah
negeri Syam (Syria) memperlihatkan sikap kehinaan yang sangat setelah Nasher Yusuf al
Ayubi, penguasa Aleppo, mendekralasikan ketundukan dan ketaatannya kepada Mongol
yang masuk negeri ini dengan melakukan kekejaman sehingga harus mengalirkan darah
para kaum muslim di daerah Azqah. Dengan kondisi seperti ini, akhirnya penguasa


25






daerah Hamah, Al Manshur bin Al Muzhaffar berinisiatif untuk kabur ke Mesir bersama
isteri dan anak-anaknya meninggalkan kota Hamah bersama rakyatnya untuk menghadapi
nasib mereka. Kemudian Nasher Yusuf kabur dari Damaskus ke Ghaza dengan tujuan
akan melanjutkan perjalanan ke Mesir dengan membiarkan daerahnya tanpa
pemerintahan dan rakyatnya tanpa pemimpin. Rumah yang dibangun oleh Al Ayubi di
wilayah Syria hancur berkeping-keping dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Akhirnya, bangsa Mongol tiba juga di Damaskus dan menguasainya dengan aman pada awal bulan Maret 1260 H, kemudian mereka berkhianat kepada penduduknya. Dan pada saat musin semi mereka menduduki daerah Nablus dan Karak, terus merayap memasuki wilayah Ghaza dengan tanpa perlawanan yang berarti. Ini karena wibawa pemerintahan di Palestina sudah terbagi ke dalam Kerajaan Akka Salibis dan pemerintahan Mongol Tatar. Palestina kembali berada di bawah injakan kaki kuda para kafir.

Salibis dan bangsa Tatar :
Bangsa Eropa sangat senang hati dengan invasi yang dilancarkan oleh bangsa Mongol
terhadap negara-negara Islam dan berusaha untuk berkoordinasi dengan mereka
menggalang satu barisan melawan musuh bersama. Mereka juga berusaya untuk
menyebarkan ajaran Kristen di antara orang-orang Tatar. Pada awal mulanya proyek ini
secara parsial berhasil, karena komandan Tatar yang menyerang negara-negara Islam
(Haluku) punya kecenderungan kepada ajaran Kristen Nasturia dan para pengawalnya
melibatkan banyak dari mereka bahkan isterinya sendiri adalah beragama Kristen.
Isterinya ini punya peranan besar—yang membanggakan pihak gereja—dalam upaya
untuk menghindarkan malapetaka yang akan menimpa daratan Eropa dari serangan orang
Mongol dan mengarahkannya kepada negara-negara Islam. Dan bahkan komandan
perang Ain Jalut, Katbaga adalah seorang Kristen. Pengaruh Kristen sangat besar bagi
orang Mongol bahkan salah satu pendeta Kristen mengilustrasikan ekspedisi Tatar,
bahwa itu adalah : “Ekspedisi Salibis dengan seluruh maknanya yaitu ekspedisi Kristen
Nartoria”. Bahkan mengharap bahwa Halako dan pemimpinnya, Katbaga akhirnya akan
berhasil mengeliminasi sepak terjak umat Islam secara keseluruhan. Hatoon Pertama, raja
Armenia, dan Bohemond Keenam, pangeran Tripoli, bersama dengan pangeran Salibis
wilayah Sour, Akka dan Cyprus, membuat aliansi dengan orang Mongol yang
menegaskan upaya untuk mengeliminasi umat Islam di Asia dan mengembalikan Al
Quds kepada orang-orang Salibis.

Pada masa itu, Mesir di bawah dinasti Mamalik diperintah oleh Sultan Al Modhaffar
Qutz pada tahun 657 H (1259 M). Ia adalah seorang pemimpin yang terkenal
keimanannya, kecintaannya kepada Tuhan dan Islam. Ia adalah murid seorang
cendikiawan terbesar pada masa itu, Al Aziz bin Abdul Salaam. Ibn Katsir mengatakan
bahwa Qutz adalah “Seorang pahlawan pemberani yang mencintai perbuatan baik dan
mengikuti Islam; rakyat sangat mencintainya dan tetap mendoakannya”.

Setelah beberapa bulan dari pemerintahannya, ia harus menghadapi problem invasi Tartar
dan menerima surat ancaman dari pemimpin mereka yaitu Halako sebelum ia
meninggalkan Syria dengan memaksa untuk menyerahkan Mesir. Surat itu berkata :
“Lihat apa yang telah kita perbuat kepada yang lain dan belajarlah dari mereka;


26






menyerahlah, karena kita tidak akan mengasihani orang-orang yang merintih dan
menangis. Kemana kira-kira anda akan berlari menyelamatkan diri dari kami? Dan siapa
yang dapat memproteksi kalian dari pedang-pedang kami? Kami tidak mengenal bentengbenteng, balatentara yang menyerang kami tidak ada gunanya dan doa kalian untuk kami tidak didengar”.
Namun Butz, pemimpin umat Islam yang hanya takut kepada Allah, tahu betul bahwa
kemenangan itu hanya datang dari Allah. Dan kalau ia benar-benar mempersiapkan diri
untuk terjun dalam kancah perang dan menghubungkan segala sesuatunya kepada Allah,
maka kemenangan akan dapat diraih. Akhirnya ia deklarasikan Jihad dan bersiap untuk
menghadapi invasi Salibis. Setelah membaca surat tersebut, ia memerintahkan untuk
menangkap dan membunuh para utusan pembawa surat dengan memotong jasadnya dari
tengah (untuk dibagi dalam dua bagian). Kepala mereka digantung pada salah satu pintu
masuk kota Kairo (pintu Zuwailah). Eksekusi mati ini adalah deklarasi yang tidak ada
kegentaran untuk mundur dan bulat tekad untuk berperang. Ini juga merupakan tantangan
yang memberikan spirit kekuatan dan kebanggaan dalam menghadapi ekspansi Tatar.

Qutz putuskan untuk berinisiatif menyerang dan maju terus menghadapi kekuatan tempur
Tatar sebagai upaya untuk mengangkat spirit juang umat Islam sekaligus sebagai
penegasan atas spirit jihad yang berupaya untuk mencari mati syahid di jalan Allah. Ini
juga sebagai upaya untuk memelihara negara Islam yang berada di Mesir dan
pembebasan wilayah Islam lainya di Syria, termasuk di dalamnya Palestina dan masjid Al
Aqsa yang diberkahi. Selain itu, serangan ini adalah upaya untuk menakuti orang-orang
Tatar bahwa mereka yang menyerang adalah tipe baru yang belum mereka hadapi
sebelumnya. Dan menyerang adalah cara yang paling sukses untuk bertahan.

Pada bulan Ramadhan 658 H - 26 Juli 1260 M, pasukan Islam di bawah pimpinan Qutz
melewati perbatasan dan membebaskan Ghaza dan berdiam di sana selama satu hari.
Kemudian mereka merangsek terus ke arah utara untuk menghadapi pasukan Tatar, di
sana di “Ain Jalut” bagian Timur Palestina, dua kekuatan Islam dan Tatar ini bertemu.

Pertempuran Ain Jalut :
Pertempuran Ain Jalut menyaksikan salah satu pertempuran yang terbesar dan krusial
dalam sejarah yang terjadi pada hari Jum’at (25 Ramadhan 658 H) bertepatan dengan (6 Desember 1260 M). Dalam perang ini sebenarnya Tatar lebih unggul dari dua segi “ilmu dan logika”, karena mereka punya kelebihan dibandingkan dengan pasukan Islam dalam aspek-aspek berikut ini :

- Efisiensi dan pengalaman yang luas yang merupakan buah dari berbagai banyak
pertempuran yang mereka arungi (kepemimpinan dan tentara).
- Spirit dan moral juang yang tinggi sekali karena belum pernah terkalahkan
sebelumnya.

- Efisiensi kavalri yang mengetahui berbagai tehnik pertempuran seperti serangan
kilat yang menjadi kelebihan balatentara Tatar.


27






- Mereka mampu untuk mengorganisir secara baik karena lebih dekat kepada basis
suplai dan logistik.

- Lokasi strategis tentara mereka lebih baik dari posisi pasukan Islam.

Kendati berbagai kelebihan menyolong yang mereka miliki, namun kemenangan yang monumental telah berpihak kepada umat Islam.

Pasukan Qutz punya kelebihan bahwa mereka adalah “pasukan Islam” yang bergerak
untuk menolong Islam dan memproteksi negeri-negerinya yang suci. Berbagai lapisan
masyarakat turut berpartisipasi dalam pertempuran ini baik kaum lansia, ulama dan
orang-orang shaleh Mesir. Perintah untuk ber-amar ma’ruf wannahyu anil munkar
menyebar di kalangan tentara, maka mereka keluar dari Mesir sebagai pasukan yang
dalam kondisi taubat, bersih dan sakral membela agama Allah dan menancapkannya di
bumi. Sebagaimana pasukan Islam ini juga dipimpin oleh komandan yang beriman yang
berhiaskan dengan “keinginan untuk berperang” yang menjadi fenomenanya yang paling
kuat dan menjadi faktor kemenangan yang paling signifikan dalam pertempuran apapun.

Qutz meminta kepada pasukannya untuk menunggu hingga setelah shalat Jum’at
“Janganlah kalian melancarkan serangan kepada mereka hingga tergelincir matahari,
memberikan bayang-bayang, angin bertiup dan para khatib di masjid serta manusia
lainnya mendoakan kita dalam shalat-shalat”, dan setelah itu baru dimulai pertempuran.

Di tengah berlangsungnya pertempuran, isteri Qutz “Jullanar” mati terbunuh dalam Jihad ini. Maka ia bergegas mendekatinya dengan berteriak “Oh wahai kasihku!” pada detik-
detik nafas terakhir kepergian isterinya. Isterinya membalas dengan berkata kepadanya : “Jangan engkau katakan itu tapi katakanlah Islamah (duhai Islam)”, kemudian
terangkatlah rohnya kepangkuan Rabnya setelah menyampaikan pesan tersebut bahwa
urusan Islam dan Jihad di jalan Allah adalah lebih penting dari cinta dan hubungan
pribadi. Maka Qutz berdiri tegak dan membalas dengan mengucap : “duhai
Islam….duhai Islam…..dan seluruh pasukan mengumandangkan teriakan yang sama
sehingga berakhir dengan kemenangan.

Di saat perang, kuda Qutz terbunuh lalu ia turun dan terus bertempur walau tanpa kuda
sehingga pasukannya memberikannya kuda lain. Namun ia menolak untuk mengambil
kuda pangeran lainnya yang secara sukarela memberikan itu kepadanya dengan
mengatakan bahwa ia tidak mau untuk menghalangi mereka dalam menunaikan tugas
suci ini. Sebaliknya ia harus berusaha sendiri untuk dapat menyelamatkan diri. Ia ditanya
mengapa tidak mau menunggang kuda dan kalau saja para musuh melihat maka akan
membunuhnya dan Islam akan dipecundangi. Ia menjawab : “Kalau saja saya terbunuh,
maka saya telah pergi ke surga. Dan Islam maka ia punya Tuhan yang tidak akan
melenyapkannya”. Dan setelah usai dan kemenangan ada di pihak Islam, Qutz turun dari
kudanya berjalan dan mengusap mukanya dengan debu medan tempur serta sujud di
hadapan Allah bersyukur kepada-Nya yang telah mengaruniakan kemenangan.




28






Kaum muslim langsung bergerak mengejar orang-orang Mongol, dan Qutz memasuki
kota Damaskus hanya lima hari setelah berakhirnya peperangan Ain Jalut. Pengejaran
berlanjut ke Aleppo dan ketika mereka mengetahui bahwa pasukan Islam sudah
mendekat, mereka putuskan untuk meninggalkan tawanan muslim. Dan ini bagi mereka
adalah malapetaka yang berat. Hanya dalam satu bulan umat Islam dengan
kepemimpinan Al Mamalik berhasil mengembalikan negeri Syria dari Mongol dan Tatar.
Peperangan ini adalah salah satu peperangan yang signifikan dalam sejarah, karena
berhasil menghentikan ekspansi orang-orang Tatar yang tidak dapat diberhentikan oleh
kekuatan apapun sebelumnya. Dan ini merupakan permulaan bagi episode kekalahan-
kekalahan yang berlanjut dan mengembalikan Mongol kepada basis-basis mereka semula dan mampu untuk memerdekakan negeri-negeri Islam yang mereka kuasai. Kemudian
orang-orang Mongol yang tetap menetap di negeri-negeri Islam berpindah ke agama
Islam, mereka berbondong-bondong memeluk agama Allah ini yang merupakan
kemenangan baru umat Islam.

Al Mamalik dan Pemusnahan Kekuatan Salibis :
Kendati pasang naik kekuatan Mongol Tatar dapat diusir dari bumi Palestina dan umat
meraih kemenangan yang gemilang di pertempuran Ain Jalut, namun kerajaan Salibis di
Akka tetap saja bertahan dengan kekuasaannya yang mencakup wilayah pesisir yang
membentang dari Jaffa ke Akka. Para sultan dari dinasti Mamalik mengambil tugas
pembebasan tanah tempat Isra’ dan negeri Syria yang tersisa sehingga tiba masa di mana
kekuatan Salibis yang terakhir dapat diusir setelah lebih dari 30 tahun paska perang Ain
Jalut.

Yang mensuksesikan sultan Qutz adalah Al Dhaher Bebar, yang berkuasa hanya satu
tahun. Bebar punya kontribusi signifikan dalam memerangi dan mengeluarkan kekuatan
Salibis dari Syria dengan cara menghujani basis-basis mereka dengan serangan demi
serangan secara terus menerus. Namun terkadang ia harus mengakomodir kesepakatan
daman dengan mereka bila memang diperlukan. Dan biasanya hal seperti ini berlangsung
dalam waktu sepuluh tahun, sepuluh bulan, sepuluh hari dan sepuluh jam. Dan setelah
mampu untuk menanggulangi berbagai problema internal negeri, ia kembali turun dalam
kancah peperangan dengan Salibis. Dan pada tahun 662 H-1263 M, ia memasuki wilayah
Palestina. Setelah pasukannya tiba di daerah Akka, Salibis mendatanginya untuk meminta pembaharuan kesepakatan genjatan senjata dan menyetujui pembebasan para tawanan
muslim serta memelihara berbagai kesepakatan dan piagam. Namun Bebars
mempertimbangkan tuntutan mereka dan terus melangkah menyerang berbagai basis
kekuatan mereka, khususnya di Akka. Ini dilancarkan untuk mengetahui titik-titik
kekuatan dan kelemahan yang ada pada mereka sehingga datang waktunya untuk
menyelamatkan negeri-negeri dan tempat-tempat yang diduduki. Dan kekuatan Salibis
tidak dapat membendung advansi kekuatan ini.

Pada tahun 664 H-1265 M, Al Dhaher Bebars kembali menginvasi Palestina dan dapat menguasai Al Qaisariyyah al Muhsanah, menghancurkan dinding-dindingnya. Sebagian pasukannya menyerang wilayah Akka dan sebagian lainnya menyerbu Haifa. Kemudian kota Arsouf jatuh ke dalam genggamannya pada tahun yang sama.


29






Pada tahun berikutnya, ia kembali keluar ke Palestina mengepung Safad, menduduki dan menghancurkan dinding-dindingnya. Kemudian pada tahun 666 H-1267 M, kembali ke
Palestina dan datang menghadap kepadanya delegasi Salibis untuk meminta genjatan
senjata. Ia biasa mengikuti strategi devide and rule dalam berhubungan dengan kekuatan Salibis agar supaya kekuatan mereka tidak dapat bersatu untuk melawannya dalam satu
waktu. Politik seperti ini yang membantu dalam menaklukkan kota Antakiya pada tahun 667 H (1268 M). Ini dianggap sebagai kemenangan yang paling gemilang yang diraih
oleh umat dari Salibis setelah keberhasilan Shalahuddin al Ayubi membebaskan kota Al Quds pada tahun 583 H (1187 M). Setelah keberhasilannya untuk menduduki Antakiya, Bebar sepakat untuk mengadakan perjanjian damai dengan Akka yang berlaku hingga 10 tahun dengan syarat bahwa ia harus menguasai setengah dari wilayah Akka dan
mengendalikan dataran tinggi di sekitar Sayda.

Setelah wafaatnya al Dhaher Bebars, Sultan al Mansur Sayfuddin Qalawoun meneruskan
langkah predesesornya untuk memerdekakan negeri Syria dari hegemoni Salibis. Pada
masa kekuasaannya ini, terbentuknya aliansi besar melawan umat Islam yang terjalin
antara kekuatan Salibis, Tartar dan Sanqur al Ashqar, wakil penguasa Damaskus yang
berpaling dari orang Islam. Tapi aliansi ini gagal dan Qalawoun mulai memperketat
tekanannya terhadap Salibis dan berhasil menduduki pelabuhan Al Marqab pada tahun
688 H (1285 M). Ia juga menaklukkan Al Ladeqyya pada tahun 686 H (1287 M) dan
Tripoli pada tahun 688 H (1289 M). Qalawoun dapat memanfaatkan instabilitas yang
terjadi pada negara Salibis di Akka secara khusus dan di negeri-negeri Syria pada
umumnya karena perebutan kekuasaan yang sedang terjadi. Ia adalah sosok pemimpin
yang kuat yang dapat mengeliminasi kehadiran Salibis di wilayah Arab bagian timur.
Pada daerah pantai Shami, Salibis hanya menguasai wilayah Akka, Sour, Sayda dan
Etleet.

Sekarang bagi Qalawoun adalah momen yang paling tepat untuk mengeliminasi Salibis
dari bumi Palestina secara total. Ia memanfaatkan peristiwa penyerangan yang
dilancarkan oleh mereka yang membunuh beberapa jemaah haji muslim sebagai sebuah
dalih untuk mendeklarasikan jihad melawan Salibis. Ia menyeruhkan seluruh pasukan
bersenjatanya dari Mesir dan Syria. Ia berdiam di luar kota Kairo untuk menunggu
kedatangan balabantuan, tapi ia terjatuh secara tiba-tiba lalu meninggal dunia pada tahun
689 H (1287 M). Sebagai suksesornya adalah anaknya yang bernama Ashraf Salahuddin.
Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Salibis untuk menawarkan Ashraf perjanjian lain, tapi
itu ditolak dan ia kerahkan pasukan bersenjatanya untuk mengepung Akka yang berhasil
dimerdekakan pada tahun 1291 M. Raja Akka, Henry Kedua berhasil lolos melarikan diri
ke Cyprus. Setelah menaklukkan Akka, Ashraf menduduki Sayda, Sour, Haifa dan Etleet.
Ia juga memerintahkan kepada pasukannya untuk membumihanguskan seluruh benteng-
benteng yang ada di kota-kota tersebut. Jadi, basis terakhir kekuatan Salibis telah
dihancurkan oleh tangan-tangan dinasti Al Mamalik, dan akhirnya eksistensi mereka di
Palestina dan Syria dapat diselesaikan secara total setelah dua abad dari tahun 492-690 H.
(1099-1291 M). Dengan prestasi ini, Palestina kembali berada di bawah pemerintahan
Islam hingga berakhir pada masa di saat kekuatan Inggris berhasil menjajah wilayah ini.




30

Read More

0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com